Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2019

SIAT PETENG SEBUAH NOVEL MISTIK BALI

I Dewa Gede Bagus


Iseng membuka file lama, sebuah tulisan amburadul yang berjudul SIAT PETENG SEBUAH NOVEL MISTIK BALI. Sebuah kisah yang berdasarkan kejadian nyata. Ternyata pada bagian ini sangat-sangat memainkan emosi saya yang menuliskannya. Hati yang tercabik oleh dendam, buah asmara yang dikandaskan hingga berakhir duka. Jadi, demikianlah antara Asmara dan Dendam hanyalah sebuah pertaruhan keakuan diri……
...,Entah kenapa malam itu, kegelapan seketika tersingkap menjadi sedikit terang oleh cahaya bulan malam yang temaram. Aku masih tetap dalam persembunyian itu bersama dengan orang-orang yang menyaksikan Siat Peteng. Dan, aku melihat sangat jelas sosok Odah berdiri di hadapan Pekak Mangku. Pekak Mangku masih meringis kesakitan menahan sakit, dan seketika isak tangis Pekak Mangku terdengar sembari meminta maaf. Karena suasana malam yang sunyi, samar-samar aku mendengar suara Pekak Mangku yang serak. “Nyai sudah mampu mengalahkanku, dan Nyai sudah membuka jalan kematianku. Maka sebelum aku mati, ijinkan aku meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan.” Odah masih berdiri tiada bergeming sembari berkacak pinggang. Odah tidak menjawab, dan ia hanya mengucap “Hem..”. Pekak Mangku kembali berucap, “Jujur aku tidak bermaksud menyakitimu dengan memutuskan begitu saja cintamu yang tulus kepadaku. Aku yang salah telah mendengar perkataan orang-orang yang buruk tentangmu. Sikapku inilah yang aku sesali selama hidupku. Maafkanlah aku sebelum kematianku, agar aku mati tidak meninggalkan rasa bersalah”. 
.
Mendengar permintaan maaf Pekak Mangku, Odah menunduk dan menatap tajam Pekak Mangku sembari berludah ke samping kanan, “Bihhh….mudah sekali dirimu mengucap maaf, setelah dirimu menggores luka dihatiku. Sudah sekian lama aku menunggu hal ini untuk menuntaskan kebencian dan dendamku padamu.” Demikian kata Odah sangat keras, lalu odah menuding Pekak Mangku, “Hai kamu tua Bangka, tiada maaf dariku, sebab sudah terlalu sakit hati ini karena dirimu. Aku sudah mati rasa. Aku bukan lagi perempuan yang kamu hinakan dulu. Kamu seenaknya saja meminta maaf tanpa pernah memahami diriku dan hatiku. Hatiku telah hancur olehmu dan sakit, sehingga hari ini dengan ilmu Panugrahan Hyang Bherawi aku menghancurkan tubuhmu. Dan, aku rasa sakit mu sekarang setimpal dengan apa yang aku rasakan dulu. Matilah kau….hahahahaha.”
.
Odah tertawa ngakak, dan sebegitu kemarahan Odah sehingga tidak ada kata maaf untuk Pekak Mangku. Hal yang wajar aku rasa, sebab aku mendengar cerita dari orang-orang tentang kisah itu. Pekak Mangku memutuskan Odah, ketika Odah sudah merencanakan menikah dengan Pekak Mangku sendiri. Sakit hatinya Odah dan kelurgaku adalah ketika undangan pernikahan sudah berjalan, sarana upacara sudah dikerjakan, tetapi seketika Pekak Mangku dan keluarganya membatalkan sepihak pernikahan itu. Konon alasan Pekak Mangku membatalkan menikah, dan memutuskan meninggalkan Odah, karena Odah dituduh mewarisi Ilmu Leak. Pekak Mangku dan keluarganya takut, jika menjadikan Odah menantu, sebab Odah akan menebar Deluh Desti Terangjana di keluarga dan sekitar desa. Terlebih Pekak Mangku mudah percaya sama tuduhan orang-orang yang sesungguhnya iri hati akan kecantikan Odah dulu.
.
Aku mendengarkan cerita itu saja sudah berasa teriris sembilu, apalagi mengalami sendiri. Odah pasti merasakan hal yang sama, bahkan lebih daripada yang aku rasakan. Aku kembali mengalihkan perhatian kepada Odah yang sedang berdiri, dan apa yang dilakukan Odah diluar dugaanku. Odah merunduk lesu bersimpuh memapah Pekak Mangku. Odah menangis terisak-isak sembari berkata lirih “Jika saja engkau tahu, bahwa hingga kini aku masih menyisakan ruang pada hatiku untuk mu. Sebagaimana janjiku, bahwa aku akan tetap mencintaimu sampai raga ini tua dan mati. Maka dari itu, ruang yang sedikit tersisa kini akan aku berikan pada saat menjelang kematianmu.”
.
Nampak Odah menitikan air mata, dan segera mengusapnya. “Baiklah aku tidak dapat mengingkari perasaannku, bahwa masih ada rasa itu, dan aku sudah memaafkanmu atas segalanya. Lepaskanlah roh mu dari kungkungannya yang sudah rusak, dan berjalanlah ke timur laut, sebab arah itu jalan kematian yang benar.”
.
Aku terharu mendengar ketegaran Odah, dan tidak terasa air mataku ikut menetes. Ternyata Odah masih menyimpan rasa sedikit. Rasa yang sengaja dia tempatkan pada sudut hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Cinta yang tulus aku rasa, sebab diusia Odah yang renta Odah masih merasakan hal itu.
.
“Terimakasih..Nyi sudah memaafkan ku…dan rasanya sudah tiba saatnya aku melepaskan badan yang penuh dosa ini. Terimakasih telah nyupat segala karma burukku padamu. Satu hal yang aku mohon dan permintaan terakhirku, tuntunlah Sang Atma dalam kurungan ini agar bisa keluar dari ubun-ubun, sebab hanya Nyi yang bisa melakukan itu.”
.
Odah segera membaringkan Pekak Mangku di atas pasir, dan ia mulai mengambil sikap Amustikarana. Kemudian terjadi keheningan yang mendalam, dan Odah merafalkan mantra yang aku rasa mantra Panunggalan Dasaksara, mantra mendengung “Ong Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ung, Mang, Ang-Ah Ong”. Setelah mantra diucapkan, maka aku melihat asap mengepul sangat tipis dari ubun-ubun Pekak Mangku, pertanda jiwa telah lepas dari kurungannya. Odah pun berdiri, dan menengadah melihat asap yang menjulang tinggi hingga terputus,….(Penggalan Siat Peteng Sebuah Novel Mistik Bali)
#Ongrahayufoto: Bli Gundakesa Pulasari

Senin, 13 Februari 2017

Valentine Alkimia Cinta:Sexs Adalah Ritus

I Dewa Gede Bagus

Valentine adalah hari kasih sayang, demikian dalam tradisi Barat. Dalam tradisi ketimuran (Bali), cinta kasih tidak ada perayaan khusus sebab cinta, asmara dan kasih sayang hendaknya selalu dihadirkan dalam diri kepada semua makhluk setiap saat dan waktu. Kendatipun ada perayaan Tumpek Krulut, hanyalah sebuah simbolis dalam ritual bahwa tresna lulut asih adalah dasar kehidupan manusia. Artinya, hari suci tersebut hanyalah media mengingatkan kita bahwa dasar kelahiran manusia berawal dari adanya kasih sayang. Sehingga Tumpek Krulut dirayakan melalui hal-hal yang mencerahkan, seperti ritual dst. Sebab kasih sayang adalah cinta alkimia yang mencerahkan. Berbeda dengan Barat, lazimnya hari kasih sayang diwujudkan lebih ke arah euforia sexsual (sexs party) dan sejenisnya.

Dalam teks tutur Bhuwana Mahbah disebutkan bahwa ketika tidak ada apapun. Nora hana (tidak ada) dewa, bhuta, bhuwana, akasa, dst, maka Sanghyang Sunya menciptakan Sanghyang Tiga Guru, dan selaanjutnya beliau menciptakan Sanghyang Guru Reka. Guru Reka, adalah Guru dunia yang menciptakan Lanang (laki-laki), perempuan (wadon) dan kedi (banci). Kemudian Sanghyang Guru Reka menanamkan benih Smararatih pada semuanya tujuannya jelas agar mereka memiliki cinta kasih sayang dan birahi tentunya. Namun agar tidak birahi, nafsu dan cinta serta asmara, kasih sayang dipahami dalam arti sempit, maka beliau menciptakan "aksara" atau sastra sebagai pengendali, seperti modre, swalalita, wrehastra, ardha candra, angka pati, pemada, carik, surang dst. Selanjutnya, atas kemurahan Sanghyang Guru Reka, aksara tersebut diajarkan kepada sang lanang, wadon dan kedi agar mampu memahami cinta, kasih sayang yang sebenarnya adalah tangga menuju pembebasan diri. Dari aksara ini, lahirlah yoga sastra, yakni sebuah jalan pembebasan dengan memahami hakikat aksara. Jadi teks tersebut secara tidak langsung memberikan makna cinta dan kasih sayang adalah tangga menuju pembebasan diri.

Lalu bagaimana dengan hakikat sexs? Dalam teks lontar Tutur Tattwa Menadi Jadma dijelaskan bahwa sanggama adalah yajna rahasia. Artinya, mereka yang bersanggama adalah melakukan ritual yajna. Pun demikian orang melakukan sanggama hendaknya terlebih dahulu melakukan posesi yajna. Sanggama tujuan jelas "ngereka sarira" sebagaimana disebutkan dalam teks tersebut. Sebab dari sarira witning trinadi (sumber 3 nadi). Selanjutnya dari ketiga nadi inilah muncul Ongkara. Singkatnya, tubuh manusia dipersonifikasikan sebagai Ongkara Sungsang (terbalik) dan Ngadeg (tegak). Dua Ongkara tersebut bertemunya di antara kedua alis------hingga nanti dipahami dan orang menemukan pembebasan. Jadi sanggama adalah ritual untuk manusia ngereka sarira agar yang punya sarira memahami aksara Ongkara. Kembali lagi pada aksara.

Kemudian Brhadaranyaka Upanisada menyebutkan dengan sangat jelas. Sexs adalah yajna. Inti manusia adalah air mani. Lalu, Prajapati menciptakan perempuan, dan kemulian perempuan terletak pada bagian bawah (vagina). Bahkan vagina disamakan dengan kunda (tempat pahoman), sebagai tempat pemeras air soma. Liang vagina adalah kunda, bulu vagina adalah rumput yajna. Kemudian orang melakukan sanggama adalah ia yang beryajna memeras air soma kehidupan. Sehingga sex adalah sakral.

Lalu merujuk sumber tersebut, apakah cinta dan sexs (sanggama), ada kesamaan? Sebab selama ini banyak yang salah kaprah cinta diartikan sama dengan sexs. Bahkan banyak orang beranggapan membuktikan cinta harus ngesexs, sebaliknya dengan ngesexs artinya cinta. Merujuk deskripsi di atas, cinta tidak sama dengan sexs walaupun identik. Cinta adalah kasih sayang universal sesungguhnya. Ketika ada cinta ia adalah benih melampui nikmat sanggama seungguhnya. Sedanggkan sanggama adalah sesuatu yang sakral yang tiada lain adalah ritual ngereka sarira. Berbeda bukan berarti dijauhkan atau bertentangan tetapi berhubungan. Sebab sanggama harus didasari dengan cinta kasih universal bahwa melakukannya bukan untuk pemenuhan birai tetapi melampui semua itu. Dengan demikian cinta dan sexs adalah tangga menuju "kebebasan" diri. Jika, dimaknai dan dilakoni dengan benar dan melalui pandangan benar.

Sekali lagi mecintai tidak mesti harus sexs, dan sexs bukan berarti cinta. Jadi, cinta dan sexs sesungguhnya ketika kita bisa melampui nikmat birahi, kecemburuan, iri hati, kedengkian, amarah dan semacamnya.
#rahayu

Sumber : Facebook I Ketut Sandika

Kamis, 01 Desember 2016

Kisah, Mitos, Dan Misteri Kembar Buncing

I Dewa Gede Bagus

Kembar buncing adalah kondisi dimana bayi kembar yang dilahrikan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Bali yang masih menganut kepercayaan buruk tentang bayi kembar buncing dan keluarganya membuat aturan yang menyudutkan keluarga tersebut. Berikut sepenggal kisah tentang kebahagiaan, kesedihan, dan perjuangan dari keluarga yang memiliki bayi kembar buncing, cerita ini dilansir dari smbbali.co.id.
Luh Sarni telah melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski lahir di rumah sakit di kota kabupaten, berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya. Tubuh Luh Sarni, yang masih lemas karena melahirkan, kini semakin lemas. Ia masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiga hari lagi dokter membolehkannya pulang. Dengan gundah, ia menatap kedua bayinya yang tidur lelap. Suaminya, Wayan Darsa, tercenung di tepi ranjang.
Ombak kebahagiaan di hati pasangan muda itu perlahan ditelan gelombang kecemasan. Darsa telah membayangkan bencana yang akan menimpa mereka jika pulang ke desa. Atas nama aturan adat, mereka tidak akan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.
“Apa yang harus kita lakukan, Bli?”
“Aku sendiri tidak tahu, Luh. Aku bingung, mesti harus berkata apa pada tetua adat dan warga desa? Kita tidak pernah meminta bayi ini lahir kembar buncing. Ini sudah kehendak Dewata!”
“Kenapa warga desa masih saja percaya dengan takhayul,” gumam Luh Sarni.
“Kau tahu sendiri, Luh, kita tinggal di sebuah desa di mana tidak satu pun warganya mengenyam pendidikan tinggi seperti kita. Mereka hanya akrab dengan sawah dan lumpur,” Darsa mencoba menghibur meski hatinya pedih.
“Beginilah akibatnya. Setahun lalu Bli sendiri yang memutuskan tinggal di desa? Saya sudah bilang, lebih nyaman di kota. Kita bisa bebas menentukan jalan hidup kita sendiri, jauh dari aturan adat dan berbagai beban upacara rumit.”
“Tapi, Luh, aku masih memiliki Ibu. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian di desa. Aku anak lelaki satu-satunya. Kau tahu ’kan adik perempuanku sudah menikah. Aku tidak punya pilihan lain, selain bertahan di desa menemani Ibu. Selain itu, aku juga ditugasi mengelola tanah warisan Ayah.”
“Tanah warisan ’kan bisa dijual. Lalu, ajak saja Ibu tinggal di kota,” Luh Sarni mencoba menguasai emosinya. “Tapi sudahlah, percuma berdebat dengan Bli. Sekarang yang perlu dipikirkan, bagaimana menyelamatkan bayi ini agar tidak diasingkan di kuburan!”
“Begini saja, Luh tetap tinggal di sini. Bli akan pulang ke desa, mencoba berunding dengan tetua adat. Aku harap mereka mengerti bahwa zaman telah berubah.”
“Tidak ada gunanya berunding dengan orang-orang kolot itu. Bli akan sakit hati sendiri. Coba sesekali turuti kata-kata saya, kita tinggal di Denpasar. Sementara waktu bisa numpang di rumah bibiku.”
Darsa tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berbagai perasaan campur aduk. Kemudian ia mengecup kening istrinya. Menatap lembut kedua bayinya. Lalu melangkah meninggalkan ruangan dengan keyakinan yang berusaha dibangunnya.
Senja hampir pudar ketika Darsa tiba di desanya yang terpencil di lereng bukit. Untuk mencapai desanya dari kota kabupaten, hanya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Sepanjang perjalanan pulang ia terus memikirkan nasib bayinya. Seingatnya, ia pernah membaca di koran bahwa sanksi adat bagi bayi kembar buncing dan keluarganya telah dihapuskan puluhan tahun lalu. Tapi, kenapa desanya masih menganggap bayi kembar buncing membawa aib? Kenapa aturan kuno itu belum dihapus dari awig-awig? Tidakkah mereka sadar hidup di abad dua puluh satu?
Darsa masih ingat, sekitar dua tahun lalu pernah terjadi peristiwa pengasingan bayi kembar buncing di desa tetangganya. Bayi dan orangtuanya diasingkan dekat kuburan. Seluruh isi rumah dianggap leteh dan harus disucikan dengan upacara khusus. Selama masa pengasingan, mereka juga tidak dibolehkan memasuki tempat-tempat suci atau bersembahyang di pura.
“Tidak manusiawi sekali!” gerutunya dalam hati.
SAMPAI di rumah Darsa disambut wajah cemas ibunya.
“Tadi pagi tetua adat datang menanyakan bayimu. Mereka ingin memastikan kebenaran kabar tentang bayi kembar buncing itu.”
“Lalu Meme ngomong apa?”
“Meme bilang berita itu tidak benar. Tapi, tetua adat tidak percaya. Mereka memaksa Meme berkata jujur. Kalau tidak, mereka akan melakukan tindakan yang lebih tegas.”
“Bayi itu tidak bersalah, Me. Kita tidak boleh membiarkan mereka membawa bayi itu ke kuburan untuk santapan leak.”
“Tapi kita bisa apa? Besok sore tetua adat bersama warga akan mengadakan paruman mendadak untuk memutuskan masalah ini.”
“Keluarga kita diundang?”
“Tidak.”
“Berarti mereka akan mengambil keputusan secara sepihak tanpa mau mendengar pembelaan dari kita.”
“Karena keluarga kita dianggap membawa aib. Kita hanya bisa pasrah dengan keputusan mereka.”
“Tidak bisa, Me! Saya harus bicara dalam paruman itu!”
“Kau tidak mengerti tabiat desa ini. Kau sama saja dengan ayahmu!”
Darsa menuju ke kamarnya. Pikirannya berputar-putar, seperti benang kusut. Ia merasa sanksi adat ini sangat tidak adil karena hanya berlaku bagi kalangan rakyat biasa. Hanya keluarga bangsawan yang boleh melahirkan bayi kembar buncing. Dan rakyat harus bergembira sebab kelahiran tersebut dianggap membawa berkah dan kemakmuran. Namun, kalau bayi tersebut lahir dari rakyat biasa dianggap aib karena menyamai raja.
“Sungguh tidak adil! Aturan ini harus dihapus dari awig-awig desa,” gumam Darsa kesal. Karena lelah jiwa dan raga, ia akhirnya tertidur pulas.
Paruman belum dimulai. Warga membentuk beberapa kerumunan kecil di pinggir jalan, di warung tuak, dan warung kopi. Mereka ngobrol sangat perlahan dan hati-hati, melihat kiri-kanan, seakan takut suara mereka akan membangunkan hantu-hantu kuburan.
“Mengerikan! Desa kita akan ditimpa kekeringan berkepanjangan.”
“Panen akan gagal lagi.”
“Sebulan lalu ada anak anjing lahir berkaki lima. Seminggu lalu bunga bangkai mekar di jaba pura. Sekarang bayi kembar buncing! Duh… Dewa Ratu, bencana apa yang akan menimpa desa ini?”
“Beberapa malam lalu saya melihat sinar biru melesat dari arah bukit.”
“Aku juga melihatnya.”
“Ya, aku juga lihat. Tapi, sinarnya biru bercampur merah.”
“Akhir-akhir ini memang sering terjadi siat peteng di pinggir desa.”
“Kemarin malam aku malah mendengar suara burung gagak di atap rumah Darsa.”
“Kau tahu, hujan sudah hampir tiga bulan tidak turun di desa kita?”
“Semoga desa kita diberi kekuatan mengatasi aib ini.”
Begitulah, wajah warga desa diliputi berbagai kecemasan dan kengerian. Mereka mengalungkan benang tridatu di pergelangan tangan masing-masing, sebagai penolak bala, pengusir roh jahat yang mengganggu.
Suasana desa benar-benar dicekam ketakutan. Warga sudah mengunci pintu rumah mereka sekitar pukul delapan malam. Mereka merasa lebih aman berkumpul di dalam rumah ketimbang berkeliaran di jalan yang sampai saat ini belum dipasangi penerangan jalan oleh pemerintah.
Tetua adat memasuki balai desa. Warga menghentikan bisik-bisiknya. Paruman berjalan alot. Dari mulut klian adat meluncur berbagai petatah-petitih dan nasihat agar ketenangan desa dijaga, agar warga bersatu mengusir roh jahat yang mengganggu serta bersama-sama mengatasi aib yang menimpa desa.
Sampai pada pokok masalah, dengan wibawa yang dibuat-buat, klian angkat bicara. “Awig-awig harus ditegakkan. Keluarga Darsa harus diasingkan dekat kuburan selama 42 hari. Mereka harus menggelar upacara caru agung yang akan dipimpin oleh pemangku desa.” Warga desa mendengar dengan santun sambil manggut-manggut.
Untuk memancing reaksi warga, klian kembali angkat bicara, “Ada pertanyaan dari warga sekalian?” Para peserta paruman menundukkan kepala. Klian menatap mereka satu per satu. “Kalau tidak ada pertanyaan, paruman akan…!”
“Saya bertanya, Pak Klian!” Warga kaget seperti melihat leak. Tidak terkecuali para tetua adat. Mereka serentak mengalihkan pandangan ke arah Darsa yang dengan tenang menaiki tangga balai desa dan mengambil posisi duduk di depan warga menghadap klian. Warga saling berbisik seperti dengung kerumunan lebah.
“Saudara sekalian harap tenang!” Pak Klian menatap Darsa lekat-lekat. “Kenapa kamu datang ke paruman ini?! Menurut awig-awig kamu…”
“Maafkan kelancangan saya, Pak Klian. Saya hanya mohon penjelasan kenapa sanksi adat mengenai bayi kembar buncing belum juga dihapuskan di desa ini, sementara pemerintah telah melarangnya puluhan tahun lalu?”
Warga desa tersentak mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Darsa. Sebagian geram dengan kelancangannya yang dianggap tidak menghormati paruman. Sebagian lagi diam-diam mendukung dan bangga dengan keberaniannya, meski hanya dalam hati. Mereka takut dengan tetua adat.
Beberapa warga sadar bahwa keluarga Darsa dan bayinya tidak bersalah. Bayi tersebut tentu tidak minta lahir dari rahim Luh Sarni, tapi semata-mata hanya karena kehendak Dewata. Sekarang Darsa yang mengalami nasib seperti ini, besok bisa saja menimpa warga lainnya. Namun, warga tidak mampu berbuat apa-apa di bawah aturan awig-awig yang walau kolot, tapi harus tetap dipatuhi agar terhindar dari sanksi adat yang lebih parah.
Dengan wajah disabar-sabarkan, klian menjawab pertanyaan Darsa yang dianggapnya terlalu lancang. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, Nak. Peraturan itu sudah tersurat dalam awig-awig desa jauh sebelum saya atau kamu lahir. Awig-awig ini sudah di-pasupati. Jadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mematuhinya. Dan, menurut awig-awig kamu semestinya tidak boleh menghadiri paruman ini karena masih leteh. Atas kelancanganmu, kau wajib membayar denda…,” klian menarik napas mencoba mengendalikan diri. “Nah, warga sekalian, paruman diakhiri sampai di sini. Sekarang silakan kembali ke rumah masing-masing!”
Klian mengemasi tumpukan lontar yang berisi awig-awig, alat tulis, dan buku catatan, kemudian meninggalkan balai desa diiringi tetua adat yang lain. Satu per satu warga pun kembali ke rumah masing-masing. Sekejap balai desa menjadi senyap. Hanya Darsa yang masih duduk tercenung di tangga balai desa. Darah mudanya mendidih. Ia merasa menjadi pecundang di desa kelahirannya sendiri. Ia merasa tidak dipedulikan, pembelaannya tidak didengar oleh tetua adat.
Bulan hampir penuh menyembul dari rerimbun pepohonan. Kenangan demi kenangan masa kanak-kanak kembali berkelebat dalam benak Darsa. Bermain petak umpet di bawah purnama dengan kawan sebaya. Mandi di kali yang berair jernih hingga sampai lupa waktu. Bersama kakek mengembalakan sapi di sawah sambil mengerjakan PR yang diberikan guru. Darsa begitu mencintai desanya. Desa yang menyimpan manis kenangan masa kanak-kanak.
Masih membekas dalam kenangannya bagaimana ia menangis menatap hamparan desanya dari jalan yang melingkari punggung bukit. Saat itu ia baru lulus SMP dan akan berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah dan kuliah. Darsa beruntung mempunyai ayah seorang guru, meski hanya guru SD di desa. Ayahnya yang terus-menerus mendorong Darsa agar sekolah dan kuliah di kota.
Namun, sukses menyekolahkan anak di kota berbuntut pada tumbuh suburnya rasa iri hati sejumlah warga yang tidak senang pada keluarga Darsa. Apalagi ayahnya dikenal sebagai warga yang paling suka bertanya dalam setiap paruman dan paling kritis dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tetua adat yang sering kali mengatasnamakan awig-awig yang tidak boleh dibantah.
Karena dianggap mengangkangi awig-awig dan wibawa tetua adat, ayahnya dikucilkan dari desa adat sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, ketika ayahnya meninggal, mayatnya tidak boleh dikubur di pekuburan desa adat, kecuali pihak keluarga bersedia mengakui kesalahan almarhum dan membayar denda yang besarnya telah ditentukan oleh awig-awig.
Demi penguburan mayat ayahnya, Darsa bersedia mengakui kesalahan ayahnya di hadapan warga dan membayar denda sesuai ketentuan. Dalam hati, Darsa tidak mengerti apa kesalahan ayahnya? Apakah hanya karena bersikap kritis terhadap awig-awig dan suatu kebijakan adat dianggap kesalahan?
Dendam tetua adat rupanya belum juga surut. Kini keluarganya kembali dikenakan sanksi adat, hanya karena melahirkan bayi kembar buncing. Sebagai seorang sarjana, Darsa merasa malu karena tidak berdaya menghadapi awig-awig desa adatnya sendiri. Ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa untuk membenahi atau meluruskan awig-awig yang kolot dan sering kali dibengkokkan oleh tetua adat untuk kepentingannya sendiri.
Hasil paruman telah diputuskan. Luh Sarni beserta bayinya akan diasingkan di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, keluarga Darsa diwajibkan menggelar upacara bersih desa. Memikirkan hal itu ia ngeri sendiri, membayangkan kedua bayinya akan hidup di kuburan selama sebulan lebih.
Tidak cara lain kecuali harus menentukan pilihan, meski berat harus dijalankan. Pagi-pagi sekali Darsa menjelaskan rencananya pada ibunya. Perempuan paruh baya itu kaget dan sedih mendengar keputusan anaknya.
“Kau tidak mau menghadapi kenyataan. Kau tahu ayahmu masih di kubur di sini dan belum di-aben?”
“Me, ini pilihan terakhir. Tidak ada jalan lain lagi. Di kota tidak ada sanksi adat yang kolot seperti ini!”
“Kalau itu kehendakmu, silakan kau berangkat sendiri. Biarlah Meme tinggal di sini merawat kuburan ayahmu. Meme masih mencintai desa ini, kau mengerti? Meme yakin suatu saat desa ini akan berubah menjadi lebih baik.”
Darsa tidak mampu berkata apa lagi. Untuk kedua kalinya ia menangis meninggalkan desa kelahirannya. Kini batinnya luka parah karena harus berpisah dengan ibunya.
Kalau keputusan awig-awig itu masih disebut kebenaran, Darsa pun telah memilih kebenarannya sendiri: mengikuti saran istrinya, hidup di kota, bila perlu melepas agama yang diwarisinya sejak lahir. Ia tidak pernah tahu, entah kapan akan kembali ke desa yang sangat dicintainya itu.
Kembar buncing: kembar laki dan perempuan. Konon, raja Bali kuno pernah memiliki anak kembar buncing, Sri Masula-Masuli. Karena diyakini telah melakukan hubungan intim selama dalam kandungan, mereka akhirnya dikawinkan dan menjadi raja-ratu yang membawa Bali ke arah kemakmuran.
Sanksi adat bagi kelahiran bayi kembar buncing telah dihapus oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bali dalam Paswara Nomor 10/DPRD tertanggal 12 Juli 1951, yang ditandatangani oleh Ketua Dewan, I Gusti Putu Merta. Namun, sampai kini beberapa desa di pedalaman Bali masih memberlakukan sanksi adat tersebut.
sumber: smbbali, bicarakembar

Senin, 12 Juli 2010

Kulkul

I Dewa Gede Bagus

SAMPUN majanten pisan sareng sami pawikan utawi uning ngeninin indik pidabdab kulkulé. Kulkul wantah kaanggé sarana komunikasi tradisional olih krama désa adat, banjar adat utawi sané siosan, nanging ring galahé becik puniki ngiring anggé magendu wirasa, nagingin sané kirang lan ngawuwuhin sané rangkungan, galahé puniki anggé paras-paros risajeroning pasemetonan.

Kulkul sampun majanten pisan malakar antuk kayu (taru), yéning pineh-pinehin risajeroning pikayunan, kayu ngaran ipun kayun, kayun punika wénten risajeroning angga sariran parajanané soang-soang, i rika raris pikayunan krama sareng sami mapupul risajeroning kulkul, napi mawinan asapunika? Sapa sira ugi yéning miragian utawi mirengang kulkulé masuara majanten sampun ring pikayunan krama désa adaté utawi krama banjar adaté ''nguda ya jani, kulkulé masuara utawi mamunyi, o suaran kulkulé banban, maka cihna krama désa adaté utawi krama banjar adaté pacang sangkep, sawiréh mangkin raina purnama''. Yéning seleh-selehin kawéntenan kulkul wantah kaanggé piranti nyikiang pikayunan kramané. Siosan ring punika kulkul wantah kaanggé piranti tatengeran tradisional risajeroning désa adat utawi banjar adat.

Nénten ja sakoda-koda utawi nyuarayang kulkul, kulkul katepak utawi kasuarayang, ritatkalaning mendak Ida Bhatara, ritatkalaning jagi ngalebar caru, ritatkalaning wénten meseh sané ngaranjing risajeroning désa sané madwé manah duhkita utawi ngusak asik kawéntenan désané, ritatkalaning wénten baya risajeroning désa, ritatkalaning wénten kasédayan utawi kamatian krama désané, ritatkalaning suryané kapaangan lan candrané kapaangan, tatepakan kulkulé manut tatepakan sané sampun kasungkemin. Upaminné yéning mendak Ida Bhatara tatepakan kulkulé upaminné sakadi puniki: ding, dang, ding, dung. dang, ding, dang, dung, lan selanturnyané. Suaran kulkulé satmaka nyikiyang pikayunané utawita uleng pikayunané jagi janggra sapengerauh Ida Bhatara, tatiga suaran kulkulé, maka cihna ngeningan jiwa premanan (sabda, bayu, lan idep) kramané sané prasida pedek tangkil uleng baktiné ring Ida. Yéning wénten baya risajeroning désa adat tatepakan kulkulé bulus, upaminné tatepakané sakadi puniki: dung, dung, dung, dung, dung, dung, dung, suaran kulkulé asiki maka cihna mangda seregep utawi siaga nyanggra sapengerauh bayané. Baya risajeroning désa upaminné: wénten umah puun, wénten linuh utawi sané siosan, punika taler yéning jagi ngalebar caru tatepakan kulkulé dang, dung, dang-dang, dung, lan selanturnyané. Kulkulé katepak ngantos usan ngaleber caru, punika praciri sampun usan nyomia sang bhuta kala mangdannyané sang bhuta kala nénten ngambengin pamargin yadnyané. Suaran kulkulé kakalih mangda sifat-sifat jahat sang bhuta kala mangda mawah dados nénten jagat.

Kulkulé yadiastun malakar antuk kayu (taru), nanging kulkul punika prasida ngamel pikayunan kramané sareng sami. Yéning turéksain makéhan payasan kulkulé utawi saput kulkulé wantah nganggé saput poléng. Poléng nyané selem lan putih, warna kalih punika wantah rwa binéda, sané matetuek iwang patut, kaja kelod, kangin kauh, lan sané siosan. Asapunika teges kulkulé wantah sané ngamel pikayunan kramané.

Risampuné asapunika wénten baos anak lingsir rikalaning mapupul sareng pasemetonané baos dané sakadi puniki 'pereciri guminé lakar uug nadaksara kulkulé umahin tabuan''.

Olih I Nengah Konten