Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2019

SIAT PETENG SEBUAH NOVEL MISTIK BALI

I Dewa Gede Bagus


Iseng membuka file lama, sebuah tulisan amburadul yang berjudul SIAT PETENG SEBUAH NOVEL MISTIK BALI. Sebuah kisah yang berdasarkan kejadian nyata. Ternyata pada bagian ini sangat-sangat memainkan emosi saya yang menuliskannya. Hati yang tercabik oleh dendam, buah asmara yang dikandaskan hingga berakhir duka. Jadi, demikianlah antara Asmara dan Dendam hanyalah sebuah pertaruhan keakuan diri……
...,Entah kenapa malam itu, kegelapan seketika tersingkap menjadi sedikit terang oleh cahaya bulan malam yang temaram. Aku masih tetap dalam persembunyian itu bersama dengan orang-orang yang menyaksikan Siat Peteng. Dan, aku melihat sangat jelas sosok Odah berdiri di hadapan Pekak Mangku. Pekak Mangku masih meringis kesakitan menahan sakit, dan seketika isak tangis Pekak Mangku terdengar sembari meminta maaf. Karena suasana malam yang sunyi, samar-samar aku mendengar suara Pekak Mangku yang serak. “Nyai sudah mampu mengalahkanku, dan Nyai sudah membuka jalan kematianku. Maka sebelum aku mati, ijinkan aku meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan.” Odah masih berdiri tiada bergeming sembari berkacak pinggang. Odah tidak menjawab, dan ia hanya mengucap “Hem..”. Pekak Mangku kembali berucap, “Jujur aku tidak bermaksud menyakitimu dengan memutuskan begitu saja cintamu yang tulus kepadaku. Aku yang salah telah mendengar perkataan orang-orang yang buruk tentangmu. Sikapku inilah yang aku sesali selama hidupku. Maafkanlah aku sebelum kematianku, agar aku mati tidak meninggalkan rasa bersalah”. 
.
Mendengar permintaan maaf Pekak Mangku, Odah menunduk dan menatap tajam Pekak Mangku sembari berludah ke samping kanan, “Bihhh….mudah sekali dirimu mengucap maaf, setelah dirimu menggores luka dihatiku. Sudah sekian lama aku menunggu hal ini untuk menuntaskan kebencian dan dendamku padamu.” Demikian kata Odah sangat keras, lalu odah menuding Pekak Mangku, “Hai kamu tua Bangka, tiada maaf dariku, sebab sudah terlalu sakit hati ini karena dirimu. Aku sudah mati rasa. Aku bukan lagi perempuan yang kamu hinakan dulu. Kamu seenaknya saja meminta maaf tanpa pernah memahami diriku dan hatiku. Hatiku telah hancur olehmu dan sakit, sehingga hari ini dengan ilmu Panugrahan Hyang Bherawi aku menghancurkan tubuhmu. Dan, aku rasa sakit mu sekarang setimpal dengan apa yang aku rasakan dulu. Matilah kau….hahahahaha.”
.
Odah tertawa ngakak, dan sebegitu kemarahan Odah sehingga tidak ada kata maaf untuk Pekak Mangku. Hal yang wajar aku rasa, sebab aku mendengar cerita dari orang-orang tentang kisah itu. Pekak Mangku memutuskan Odah, ketika Odah sudah merencanakan menikah dengan Pekak Mangku sendiri. Sakit hatinya Odah dan kelurgaku adalah ketika undangan pernikahan sudah berjalan, sarana upacara sudah dikerjakan, tetapi seketika Pekak Mangku dan keluarganya membatalkan sepihak pernikahan itu. Konon alasan Pekak Mangku membatalkan menikah, dan memutuskan meninggalkan Odah, karena Odah dituduh mewarisi Ilmu Leak. Pekak Mangku dan keluarganya takut, jika menjadikan Odah menantu, sebab Odah akan menebar Deluh Desti Terangjana di keluarga dan sekitar desa. Terlebih Pekak Mangku mudah percaya sama tuduhan orang-orang yang sesungguhnya iri hati akan kecantikan Odah dulu.
.
Aku mendengarkan cerita itu saja sudah berasa teriris sembilu, apalagi mengalami sendiri. Odah pasti merasakan hal yang sama, bahkan lebih daripada yang aku rasakan. Aku kembali mengalihkan perhatian kepada Odah yang sedang berdiri, dan apa yang dilakukan Odah diluar dugaanku. Odah merunduk lesu bersimpuh memapah Pekak Mangku. Odah menangis terisak-isak sembari berkata lirih “Jika saja engkau tahu, bahwa hingga kini aku masih menyisakan ruang pada hatiku untuk mu. Sebagaimana janjiku, bahwa aku akan tetap mencintaimu sampai raga ini tua dan mati. Maka dari itu, ruang yang sedikit tersisa kini akan aku berikan pada saat menjelang kematianmu.”
.
Nampak Odah menitikan air mata, dan segera mengusapnya. “Baiklah aku tidak dapat mengingkari perasaannku, bahwa masih ada rasa itu, dan aku sudah memaafkanmu atas segalanya. Lepaskanlah roh mu dari kungkungannya yang sudah rusak, dan berjalanlah ke timur laut, sebab arah itu jalan kematian yang benar.”
.
Aku terharu mendengar ketegaran Odah, dan tidak terasa air mataku ikut menetes. Ternyata Odah masih menyimpan rasa sedikit. Rasa yang sengaja dia tempatkan pada sudut hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Cinta yang tulus aku rasa, sebab diusia Odah yang renta Odah masih merasakan hal itu.
.
“Terimakasih..Nyi sudah memaafkan ku…dan rasanya sudah tiba saatnya aku melepaskan badan yang penuh dosa ini. Terimakasih telah nyupat segala karma burukku padamu. Satu hal yang aku mohon dan permintaan terakhirku, tuntunlah Sang Atma dalam kurungan ini agar bisa keluar dari ubun-ubun, sebab hanya Nyi yang bisa melakukan itu.”
.
Odah segera membaringkan Pekak Mangku di atas pasir, dan ia mulai mengambil sikap Amustikarana. Kemudian terjadi keheningan yang mendalam, dan Odah merafalkan mantra yang aku rasa mantra Panunggalan Dasaksara, mantra mendengung “Ong Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ung, Mang, Ang-Ah Ong”. Setelah mantra diucapkan, maka aku melihat asap mengepul sangat tipis dari ubun-ubun Pekak Mangku, pertanda jiwa telah lepas dari kurungannya. Odah pun berdiri, dan menengadah melihat asap yang menjulang tinggi hingga terputus,….(Penggalan Siat Peteng Sebuah Novel Mistik Bali)
#Ongrahayufoto: Bli Gundakesa Pulasari

Rabu, 17 Oktober 2018

PATIRTHAN TADAH UWUK BANJAR UMANYAR DESA NYALIAN BANJARANGKAN KLUNGKUNG Penglukatan Panca Durga Penugrahan Pancaka Tirtha

I Dewa Gede Bagus

Banjar Umanyar Sebuah Wilayah Suci
Banjar Umanyar Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung secara georafis berada dalam wilayah yang setrategis. Di sebelah Barat dibatasi oleh DAS (daerah aliran sungai) Tukad Melangit yang masih sangat alami dengan lanscap natural. Bahkan disepanjang tepi curam sungai Melangit, baik sebelah barat dan timur terdapat banyak sumber mata air yang menandakan bahwa daerah yang berada disepanjang sungai memiliki kadar kesuburan yang tinggi. Di sebelah selatan terbentang areal persawahan yang bernama Beji, dan berhubungan pula dengan kesucian dan penyucian.


            Dalam teks Raja Purana Batur, banjar Umanyar sering disebut sebagai daerah Uma Sukla yang secara literal dapat diartikan sebagai sebuah wilayah yang suci. Lebih jauh disebutkan dalam teks tersebut, bahwa masyarakat Uma Sukla (sekarang Umanyar) masih berada dalam satu wilayah Wingkang Danu, sehingga diwajibkan warga Umanyar untuk memohon Tirtha Pakuluh kesuburan ke Pura Ulun Danu Batur, sehingga lahan pertanian dapat menjadi subur dan bebas dari segala macam merana.
            Berdasarkan apa yang disebutkan dalam teks Raja Purana Batur, dapat kita pastikan bahwa wilayah Banjar Umanyar adalah sebuah wilayah yang disucikan dan tersucikan, sehingga wilayah ini dijadikan kesatuan wilayah Wingkang Danu.


Banjar Umanyar Dikelilinggi Mata Air
Sebagaimana  disebutkan di atas, bahwa Banjar Umanyar adalah wilayah yang suci dirasa sangat tepat, mengingat di sebelah Barat wilayah dikelilingi mata air yang difungsikan sebagai tempat Pesiraman Ida Bhatara. Jadi, beberapa mata air yang mengalir memang disakralkan sebagai tempat penyucian pratima dan simbol-simbol suci lainnya. Dari utara ada patirthan Paku Lindung yang difungsikan sebagai tempat pasiraman atau patirthan Ida Bhatara yang bersthana di Pura Puseh. Kemudian di sebelah selatan ada patirthan Keroya yang dijadikan tempat pasiraman Ida Bhatara di Pura Ulun Suwi yakni Pura Swagina dalam keitannya dengan persubakan, seperti pertanian lahan kering (abyan) maupun lahan basah (bangket). Kemudian di antara pertitrhan tersebut, terdapat patirthan Tadah Uwuk yang belakangan dikelolan dan dikembangkan sebagai tempat penglukatan dengan konsep yang mengacu pada sumber susastra suci Hindu.



Arti Kata Tadah Uwuk
Secara literal Tadah Uwuk berasal dari kata Tadah dan Uwuk. Tadah merujuk pada arti mati, kematian, membunuh, peleburan, mayat dan sejinisnya. Uwuk merujuk pada arti cairan, air mayat, cerukan, dan bisa juga diartikan tempat. Jadi merujuk pada arti atau makna kata tersebut, dapat dipastikan bahwa Tada Uwuk adalah sebuah tempat dimana air mayat mengalir untuk melebur segala kekotoran diri. Air Mayat bukan berarti air “danur” atau bahasa Balinya banyeh, tetapi air peleburan untuk melebur segala kekotoran yang terdapat dalam diri, sehingga diri dapat tersucikan kembali. Sebab orang yang kotor, hidup seperti mayat berjalan sebagaimana kitab Sarasamusccaya menyebutkan.



Patirtha Tadah Uwuk sebagai Penglukatan Panca Durga
 Patirthan ini disebut patirthan Tada Uwuk yang unik dan berbeda dari patirthan lainnya di Bali. Sumber air yang muncul dari celah bebatuan yang membelah, sehingga menyembulkan mata air yang besar. Uniknya, patirthan ini tepat berada di bawah setra dan Pura Dalem Banjar Umanyar. Hal tersebut, semakin menambah kesan magis dan mistik dari patirthan ini.
            Mengacu pada lontar Budha Kecapi Cemeng, konon pertapaan dari Buda Kecapi didirikan dipinggiran mata air yang mengalir dari celah bebatuan yang tidak jauh dari patirthan, tepatnya diatasnya ada kuburan yang disebut dengan Setra Ganda Mayu. Dijelaskan pula bahwa sengaja I Buda Kecapi membangun pertapaannya di lokasi yang demikian, karena diketahui mata air tersebut mengandung kasiddhian (kekuatan) untuk melebur segala kekotoran (sarwa mala) dalam diri.
            Jadi merujuk pada teks tersebut, jelas paturthan Tadah Uwuk kita yakini sebagai patirthan yang mata airnya mengandung kasiddhian untuk melebur segala kekotoran. Jadi, dapat dinyatakan bahwa patirthan Tadah Uwuk adalah pusat dari Mandala (simbol magis) yang berhubungan dengan setra sebagai peleburan dan Pura Dalem sebagai sthana Bhatara Siwa dengan swabawanya (fungsinya) untuk melebur segala kekotoran diri. Terlebih mengacu pada lontar Siwa Purana Tattwa, bahwa Bhatara Siwa yang bersthana di Pura Dalem dan Bhatari Durga sebagai sakti beliau bersthana di Pengulunin Setra yang sama-sama memiliki fungsi sebagai pelebur. Hyang Bhatari Durga dengan kekuatan Panca Durga dan Bhatara Siwa dengan kekuatan Panca Kertya Siwa.


            Mengacu pada konsep teologis atau tattwa tersebut, maka sengaja Pancuran Paturthan Tadah Uwuk dibuat lima pancuran sebagai simbolisasi pertemuan antara Bhatara Siwa dan Saktinya Bhatari Durga sehingga melahirkan tirtha amretam yang melebur segala kekotoran diri. Mata air mengalir ke pancuran pertama yang di sebelah utara adalah simbolisasi Penglukatan Hyang Sri Durga dimana dengan daya sakti beliau segala kekotoran yang melekat dalam anamaya kosa (badan fisik), seperti sakit cacar, kulit, jerawat, upas desti, upas terang jana dan sejenisnya bisa dilenyapkan.
            Kemudian pancuran ke dua adalah penglukatan Hyang Dari Durga yakni peleburan segala mala yang melekat dalam Pranamaya Kosa atau lapisan badan prana, seperti ipian ala, sumpah cor, tiwang karena desti, kadewan-dewan, sakit karena desti, dan semacamnya. Pancuran ketiga adalah penglukatan Hyang Sukri Durga yang difungsikan untuk melebur segala kekotoran yang menempel pada Manomayakosa yakni lapisan badan pikiran dalam diri, seperti kebingungan, miyut, salah wetu/oton, setres, kebingungan, gangguan mental dan jiwa dan semacamnya.


            Pancuran keempat penglukatan Hyang Raji Durga yang dapat difungsikan sebagai peleburan segala kekotoran pada lapisan Vijnana Kosa atau lapisan badan halus yang mengotori, sehingga sangat jauh diri kita dari kebijaksanaan, seperti kroda atau marah, iri hati, dendam, kebencian dan semacamnya yang membuat kita mengalami papa dan dukha. Selanjutnya pancuran terakhir yang paling selatan adalah penglukatan Hyang Dewi Durga yang berfungsi melebur lapisan terdalam dari tubuh, yakni jiwa-jiwa yang masih terbelenggu wasana karma, seperti kena sumpah, kena kutukan, kesisipan, kapongor dan semacamnya.
            Melalui kelima penglukatan tersebut diyakini patirthan Tadah Uwuk akan mampu melebur segala mala kasmala, papa dan kekotoran yang menempel pada lima lapisan badan atau Panca Maya Kosa dalam diri.

Panugrahan Pancaka Tirtha/Dewata
Selain penglukatan, konsep yang unik juga dapat dimunculkan di patirthan Tadah Uwuk. Selama ini, patirthan yang lainnya hanya difungsikan sebagai penglukatan dan peleburan. Tetapi, di patirthan Tadah Uwuk dapat difungsikan sebagai tempat penglukatan sekaligus sebagai pemberkatan Sakti Panca Dewata sebagai Pancaka Tirtha yang memberikan kemakmuran, kesuburan dan ksehatan sekala-niskala.    
            Pancuran pertama selain difungsikan sebagai penglukatan bisa juga sebagai panugrahan Hyang Bhatara Sadjyojata atau Iswara, dan dalam konsep pangiderin Bhuwana beliau berada di Timur, senjata Bajra, warna putih, aksara suci SANG menghilangkan mala dan memberikan anugrah perlindungan.
            Pancuran kedua selain difungsikan sebagai penglukatan bisa juga sebagai memohon pangrahan Hyang Bhatara Bamadewa sebagai Brahma, berada di Selatan, warna merah senjata Gada dan aksara suci BANG menghilangkan papa dan memberikan anugrah kekuatan.
            Pancuran ketiga selain difungsikan sebagai penglukatan bisa juga difungsikan sebagai tempat memohon panugrahan dari Hyang Bhatara Tatpurusa atau Mahadewa, berada di Barat, senjata Nagapasa, aksara suci TANG menghilangkan sarwa klesa dan memberikan anugrah keselamatan.


            Pancuran keempat selain difungsikan sebagai penglukatan bisa juga difungsikan sebagai tempat memohon anugrah kepada Bhatara Agora atau Wisnu sebagai pemelihara, berada di Utara, senjata Cakra, warna hitam dan aksara suci ANG menghilangkan sarwa papa dan memberikan anugrah kesuburan, kesejahteraan material dan spiritual.
            Pancuran kelima dapat difungsikan sebagai tempat memohon anugerah kepada Bhatara Iswara atau Hyang Siwa, berada di tengah, senjata Padma, warna panca warna, aksara suci ING menghilangkan semua papa klesa dan memberikan anugerah kerahayuan bumi atau alam semesta, baik Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
            Demikianlah konsep tattwa yang terdapat di Patirthan Tadah Uwuk Banjar Umanyar Desa Nyalian. Tentunya konsep ini dapat dijadikan ikonik yang khas dari patirthan ini yang tentunya berbeda dari patirthan yang lain, sehingga menjadi sangat layak dikunjungi bagi semua umat Hindu. Baik untuk berdharma yatra dan bertirtha yatra, seperti apa yang diamantkan dalam susastra suci bahwa zaman kali yadnya yang utama adalah mengunjungi tempat suci, mata air suci guna melakukan penyucian diri.


Ong Rahayu

Senin, 15 Januari 2018

Memuja Lingga Yoni

I Dewa Gede Bagus
Diri manusia juga terbentuk lewat proses yang menakjubkan. Secara kasat mata bisa diketahui manusia terlahir dengan peran seorang laki-laki dan perempuan, seorang bapak dan seorang ibu. Lewat persenggamaan yang menyatukan lingga dari bapak dan yoni dari ibu, maka sel sperma terpancar dan bisa menyatu dengan sel telur. Di dalam sel sperma itulah terdapat Sang Jiwa yang berasal dari Bapa Angkasa, sementara sel telur mengandung wadah bagi Sang Jiwa yang tersusun dari segenap unsur alam yang dianugerahkan Ibu Pertiwi.

Berdasarkan kesadaran inilah, orang-orang bijak mengembangkan tradisi pemujaan Lingga yang melambangkan Bapa Angkasa sekaligus alat kelamin laki-laki dan Yoni yang melambangkan Ibu Bumi sekaligus alat kelamin perempuan. Pemujaan ini bertujuan agar setiap pribadi sadar asal mula keberadaannya, dan memberi penghormatan sepatutnya kepada Ibu/Bapak Kandung sebagai orang tua secara kasat mata sekaligus Ibu Bumi dan Bapa Angkasa sebagai orang tua esensial.

Memuja Lingga Yoni sejatinya adalah jalan yang paling nyata untuk menghormati Sang Hyang Hurip: Lingga Yoni itulah pengejawantahan dari Sang Hyang Hurip di jagad dualitas. Dia yang semula suwung mengejawantah menjadi Kuasa Maskulin dan Kuasa Feminin, Sang Bapa Angkasa dan Sang Ibu Bumi. Itulah asal keberadaan manusia.



Sumber : Facebook Setyo Hajar Dewantoro

Jumat, 12 Januari 2018

Sanggama

I Dewa Gede Bagus
"Lakukan sanggama, selayaknya Siwa bersenggama dengan Sakti dalam bilik rahasia."
Sebuah frase lirih sang guru Tantra. Menyerukan kepada muridnya, bahwa lakukanlah sanggama segera. Sebagaimana Siwa bersenggama dengan Sakti dalam bilik rahasia. Sanggama, disini merujuk pada mistisisme Tantra. Sebuah proses penyatuan esoterik antara energi maskulin dan femenim. Keintiman penyatuan tersebut digambarkan dengan sangat indah dalam persetubuhan aksara. Di mana aksara ANG menyatu dengan aksara AH menjadi satu kesatuan yang paripurna.

Sanggama selayaknya Siwa dengan Sakti merupakan sebuah metafora mistik menggambarkan kemanunggalan yang utuh. Kemanunggalan antara Sakti yang berada di simpul cakra bawah, naik bertemu dengan Siwa pada simpul cakra mahkota. Sakti diwujudkan dalam aksara ANG selayaknya api, dan energi dari panas. Siwa terwakilkan oleh aksara AH, yakni energi sejuk dan kelembutan. Keduanya bertemu dalam bilik rahasia. Diamanakah bilik itu?
Ada dalam diri. Bilik itu tidaklah jauh, dan ia ada dalam selubung diri. Bilik adalah ruang, dan ia adalah windhu sebagai sunyantara. Pada windhu dan kesunyian itulah penyatuan itu berada. Maka, lakukan sanggama itu, yakni menyatukan Sakti dengan Siwa pada windhu sunya yang rahasia. Olehnya, nikmat yang melebihi sanggama ( seks ) akan di rasakan. Mengecap nikmat itu adalah pelepasan sesungguhnya.
Tetapi, jangan dilakukan itu sebelum waktunya. Lakukan sanggama sarira dulu ( sakramen seksual). Masukilah windhu nadha dalam bilik perempuan. Sehingga nikmat persetubuhan badan di rasa. Lakukan sanggama itu selayaknya penyatuan Siwa dan Sakti, yakni menyatukan venis dengan vagina untuk mencapai puncak kenikmatan tubuh. Tetapi, itu semua harus ditinggalkan nantinya dan nikmat itu hendaknya dilampui untuk melakukan sanggama dalam bilik rahasia diri.
#rahayu

Sumber : Facebook I Ketut Sandika 

Selasa, 23 Agustus 2016

KITAB SUCI VEDA ITU ASLI WAHYU TUHAN

I Dewa Gede Bagus
OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.
Selamat bertemu lagi teman-teman, semoga semuanya dalam keadaan sehat-sehat. Saya punya cerita dari pengalaman sendiri di rumah. Kurang lebih seminggu yang lalu saya membaca buku 108 Mutiara Veda, yang ditulis oleh Dr.Somvir. Satu pasal saya baca saya lewati, satu pasal saya lewati, artinya sepintas - sepintas saja, namun disaat itu tertarik perhatian saya pada setiap terjemahannya dari setiap pasal, yaitu; tidak satupun terjemahannya berbunyi; " WAHAI KAU UMAT HINDU...." Yang ada adalah; " WAHAI KAU UMAT MANUSIA........" Jadi saya berpikir, kenapa tidak menunjuk WAHAI KAU UMAT HINDU YA.....????? Sedangkan kitab Suci Veda itu adalah kitab suci penganut agama Hindu, artinya Veda itu adalah hanya untuk umat Hindu saja demikian pikiran saya. Tetapi setelah lama saya berpikir seperti itu, lalu muncul dipikiran saya bahwa kalau demikian berarti Veda itu ajarannya untuk umat manusia, kalau kita melihat dari terjemahannya. Memang inilah salah satu ciri dari Veda itu adalah wahyu Tuhan, tidak membedakan siapa dia.
Dan adalagi saya ingat waktu masih kuliah dulu, dosen saya pernah saya dengar mengatakan bahwa Veda itu adalah sumber dari segala sumber ilmu. Kalau begitu berarti beliau-beliau atau mereka- mereka yang mempelajari ilmu itu berarti boleh dikatakan sudah mempelajari Veda, itu adalah anggapan saya.
Selain dari pada itu, saya juga merasakan bahwa, Veda memiliki sifat penyebaran yang amat istimewa, yaitu; MENGAYOMI, MENGANGKAT DAN MEMAKNAI BUDAYA LOKAL. Artinya, dimana ajaran Veda itu dianut, akan selalu mengayomi, mengangkat dan memaknai budaya lokal. Veda tidak merusak apa lagi menghancurkan budaya lokal, ini salah satu yang amat penting bagi saya memberikan petunjuk bahwa Veda itu asli wahyu dari Tuhan, sebab Tuhan menciptakan semuanya maka ajaran Tuhan itu mengayomi setiap ciptaannya.
Salah satu contoh; didalam salah satu pasal Yajur Veda ada menuliskan; ..."Vayur anilam amertam athedam basmantam sariram"......... terjemahannya saya baca; "Wahaikau manusia setelah rokhmu meninggalkan jasadmu yang terbentuk dari panca maha Bhuta, secepatnya jasadmu dijadikan abu, rokh akan mendapatkan moksa." Demikian kurang lebihnya.
Maka dari itulah setiap umat Hindu yang meninggal harus diaben, jadi tidak dikubur. Namun di Bali ada penguburan sementara umat hindu yang telah meninggal. Sistem penguburan mayat di Bali telah ada sejak jaman batu yang disebut jaman neolitium, dengan peninggalannya kita kenal dengan nama sarkopagus, itu budaya lokal namun hal itu tidak dirusak bahkan diayomi dan dimaknai, makanya umat Hindu di Bali yang meninggal , ada yang di aben langsung, ada adapula yang di kubur dalam jangka waktu tertentu baru diaben. kesimpulannya; MENINGGAL ABEN, DAN MENINGGAL KUBUR KEMUDIAN DIABEN, akhirnya semua diaben. Dengan demikian di Bali setiap Desa Pekraman memiliki Setra, yang dari jaman kejaman tidak pernah diperluas, sebab tidak ada mayat yang dikubur terus.
Banyak lagi konsep-konsep kehidupan yang damai termuat di dalam ajaran Veda, namun pada kesempatan ini hanya itu yang tersirat dalam pikiran saya setelah membaca buku 108 Mutiara Veda dari Dr.Somvir.
Terima kasih atas perhatian teman-teman yang membaca tulisan ini. Sekian.
Om Santhi,Santhi, Santhi, Om.

Sumber : Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung

Rabu, 10 Agustus 2016

Polres Klungkung Serahkan Sarana Kontak Kepada Pecalang Uma Anyar Desa Nyalian

I Dewa Gede Bagus
Untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat Kabupaten Klungkung. Personil Polres Klungkung rajin berkomunikasi dengan masyarakat Kabupaten Klungkung. Bahkan Kapolres Klungkung AKBP FX. Arendra Wahyudi SiK beserta staf aktif melakukan patroli keliling Desa dengan gowes dan sambang Desanya. Hal ini, agar masyarakat Klungkung merasa aman dan nyaman serta ikut berpartisipasi dalam menjagakamtibmas diwilayahnya masing-masing.
 


Demikian dikatakan Kapolres Klungkung AKBP FX. Arendra Wahyudi SiK, didampingi Waka Polres Klungkung Kompol. AA. Gede Mudita SH, Kabag Ren, Para Kasat dan Kapolsek Banjarangkan AKP I Made Sudanta SH menyerahkan sarana kontak kepada Pecalang Kamtibmas, Banjar Uma Anyar, Desa Nyalian, bertempat di Banjar Uma Anyar, Sabtu, 26/9.

Kegunaan sarana kontak tersebut sebagai alat utk berkomunikasi secara langsung degan masyarakat sekaligus mendekatkan diri degan masyarakat agar terjalin rasa kebersamaan dan kekeluargaan antara Polri dengan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut Kapolres Juga mengatakan bahwa jangan pernah meninggalkan komunikasi dengan masyarakat, karena tampa dukungan masyarakat situasi kamtibmas aman dan kondusip sulit terwujud, jadi untuk mewujudkan semua itu Personil Polri harus selalu menjalin komunikasi dengan masyarakat, karena partisipasi masyarakat kunci utama terciptanya keamanan.
Sementara itu Bendesa Adat Uma Anyar I Wayan Regeg menyampaikan terima kasih kepada Polres Klungkung atas pemberian ini sarana kontak ini, tentunya pemberian ini sangat bermampaat bagi keperluan para Pecalang dikala melaksanakan tugas, apa lagi dalam waktu dekat ini Krama Banjar Uma Anyar akan melaksanakan karya besar seperti mamungkah, caru manca sanak, Ngenteg Linggih, pedudusan agung ring Pura Puseh Banjar Anyar.
Sarana Kontak yang diserahkan Kapolres kepada para Pecalang Kamtibmas Banjar Uma Anyar Desa Nyalian berupa 10 lembar baju kaos Pecalang, 5 Senter Kelip Lalu Lintas dan 3 senter biasa.
Selain Bendesaa adat Uma Anyar hadir pula pada Kesempatan tersebut Kepala Desa Nyalian Ida Bagus Alit Negara, Tokoh Masyarakat. Tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat Banjar Uma Anyar.

Sumber : http://polresklungkung.com

Senin, 15 September 2008

KAMA DAN SMARA RATIH

I Dewa Gede Bagus

KEDUDUKAN Kama-Ratih di kerajaan Indraloka tidaklah ting­gi. Dalam bahasa sekarang bisa disebutmenengahke bawah. Kare­na itu, suami-istri itu bias disuruh­-suruh oleh dewa-dewa atasannya. Jenis suruhan tentu disesuaikan dengan bidang keahliannya, yaitu asmara.
Misalnya, ketika Dewi Uma sangat merindukan suaminya, Shiwa, yang sedang bertapa, ia menyuruh Dewa Kama untuk melakukan suatu mission impossible. Mis­inya adalah membuat Shiwa merindukan istrinya, sehingga ia pulang. Cara mem­buatnya rindu adalah dengan membang­kitkan hasrat birahi asmaranya. Uma tidak perlu menjelaskan bagaimana car­anya. ltu memang sudah pekerjaan sehari-hari Kama. Tapi karena yang akan digarap adalah Shiwa, dewa tertinggi, maka peker­jaan kali ini sangat berisiko. Kama harus ekstra hati-hati. Ia harus mengerahkan segala kemampuan dan intuisi, guna men­gantisipasi segala kemungkinan. Dan me­mang begitu pula pesan istrinya, Ratih, ketika melepas keberangkatan Kama.
“Hati-hatilah, Suamiku! Kesalahan sekecil apa pun akan berakibat fatal. Jangan pandang sepele kemarahan Shiwa! Was­padailah mata ketiganya”!

Maka,
Kama pun berangkat dengan perasaan cemas. Sampai di tempat perta­paan Shiwa, Kama sembunyi-sembunyi tidak berani memperlihatkan dirinya di hadapan Shiwa. Kalau sampai Shiwa me­lihat wajahnya, beliau akan langsung tahu apa maksudnya. Dan itu berarti kegagalan misinya. Karena ilmu asmara yang dimil­ikinya, adalah juga pemberian Shiwa. Jadi, posisinya sungguh tidak selevel, kama tidak ingin misinya gagal. Jika itu sampai terjadi, ia tidak akan punya muka di hada­pan Dewi Uma. Kredibilitasnya akan jatuh di hadapan khalayak dewa-dewa. Ia akan lama menyalahkan diri, merasa tidak profesional.

Maka dengan sangat ekstra hati-hati, Kama menyiapkan anak panah dan perlengkapannya. Sesuai dengan prose­dur pelepasan anak panah asmara. Kama melepaskan anak panah pertamanya. Te­pat mengenai sasaran bidik. Anak panah kedua dan seterusnya juga tidak meleset sedikit pun. Kama memang master di bidangnya.

Shiwa pun membuka mata dari keterpejamannya yang dalam. Hal pertama yang diingatnya adalah istri. Hal pertama yang ia ingat ten­tang istrinya adalah kemolekan tubuh dan kecantikan wajahnya. Bersamaan dengan itu, kenangan manis persenggamaan terakhir sebelum mereka berpisah muncul perlahan-lahan endapan kenangan.
Kenangan itu menarik-narikn­ya. Dan Shiwa pun sangat merindukan is­trinya. Ia ingin segera ada di
depan istrin­ya. Ia ingin senggama-asmara badan.
Pada momen kritis itu Shiwa melihat kelebatan Kama di tempat persembuny­ian. Detik itu juga Shiwa sadar, bahwa ker­induan asmaragamanya adalah ulah Kama. Untuk apa Kama ada di sekitar pertapaannya kalau bukan niat memper­mainkan libidonya. Kurang ajar! Berani­ -beraninya anak bau kencur itu. Bahwa per­tapaannya menjadi batal, itu adalah kesalahan Kama, bukan kesalahan dirinya.
Murkalah beliau, sebelum tahu apakah kedatangan Kama murni atas kemauan sendiri, atau atas suruhan orang lain. Sudah menjadi pengetahuan umum di alam dewa­-dewa, bila Shiwa sampai murka, itu artin­ya masalah yang sangat serius. Pasti akan jatuh korban kutukan. Melihat situasi ga­wat seperti itu, dan Kama sudah tidak mungkin berkelit, ia pun pasrah.

Lututnya gemetar. Semua kariernya akan berakhir saat itu juga, di tempat itu juga. Kutukan sudah pasti akan dijatuhkan. Entah kutu­kan apa akan diterimanya, itu harus di­nanti. Adakah yang lebih menyiksa dari­pada menanti kutukan?

Api menyambar-nyambar dari mata ketiga Shiwa.
Tidak tahu bagaimana harus melukiskan kedahsyatan api itu. Kama hangus gosong terbakar menjadi debu han­ya dalam hitungan detik. Tanpa ampun. Tanpa ada faktor-faktor yang meringankan hukuman. Di hadapan Shiwa semua fak­tor memberatkan si pesakitan. Jenis ke­salahan Kama sudah masuk ke dalam extraordinary crime. Durhaka. Lancang. Berakhirkah karier Kama? Ternyata tidak. Ratih, istri Kama, tidak bisa menerima kematian suaminya tanpa jasad. Tapi ia tidak punya posisi tawar apa pun di hadapan Shiwa. Yang bisa ia lakukan, sebagai dewi bawahan, tentu hanya memohon. Sudi apalah kiranya Shiwa mencabut kutukannya,dan mengembalikan Kama seutuhnya kepada dirinya. Untuk memperkuat permohonannya ia minta rekomendasl Dewi Uma, karena beliaulah yang mengirim Kama untuk melakukan mission impossible itu. Permohonan yang disampaikannya dengan derai air mata, cukup berhasil walau tidak seratus persen. Kesimpulannya: Shiwa berkenan menghidupkan kembali Kama, dengan beberapa persyaratan. Pertama, ia akan hidup kembali tapi tidak memiliki tubuh seperti sebelumnya. Kedua ia tidak boleh tinggal di alam dewa, tapi harus hidup jauh di dunia bawah sana bergabung dengan manusia. Ketiga di dunia dimana ada kematian (mertyupada) Kama bertugas menyusup kedalam hati tiap laki-laki.

Bagaimana dengan Ratih? Agar Ratih tidak terpisah dengan suaminya, iapun lantas digeseng, “bakar”, dan diturunkan ke dunia, juga tanpa tubuh, dengan tugas menyusup ke hati tiap perempuan. Di dunia yang disebut semacam ashrama itu, keduanya tidak akan leluasa bertemu semau mereka. Mereka dipisahkan oleh tubuh laki dan badan perempuan. Mereka hanya akan bertemu bila terjadi senggama asmara antara laki dan perempuan. Itupun kalau asmaragama itu benar. Bagaimana asmaragama yang benar ? Itu masalah
Sungguh tragis nasib Kama. Ironis perjalanan hidupnya. Ia menjalani sisa hidupnya dalam penjara bernama tubuh lelaki. Han­ya sesekali ia akan bertemu dengan pasan­gannya, yang dijebloskan ke penjara tubuh perempuan.

Pertemuan itu akan berlangsung seben­tar saja. Apa boleh buat, itu semua adalah konsekwensi dari sebuah tugas yang diem­bannya sebagai dewa bawahan.

Begitulah cerita Mpu Dharmaja dalam Kakawin Smaradahana, yang berarti “dahaga
asmara”. Mpu Dharmaja barangkali terharu dengan nasib Kama. Karena itu ia, menggubah sebuah kakawin. Tentu bukan karena ingin membuat kisah tokoh-tokoh yang dikalahkan, lantas beliau mengger­akkan alat tulisnya. Sebagai pembaca kita merasa diberitahu, bahwa kemenangan­-kemenangan Shiwa terjadi dengan pengor­banan, dewa lain. Dewa yang berkorban itu, seperti Kama, pada gilirannya menunjukkan “kemenangan” dimensi lain. Cuma, sudah lama sekali, perhatian kita tertuju pada kemenangan-kemenangan, dan hampir tidak kita perhatikan yang dikalahkan.

Padahal kita bersikeras ingin mendapatkan pemahaman yang utuh.

Karena sebuah kesalahan alam atas
Kama dan Ratih diturunkan ke dunia alam bawah. Ketika keduanya dijebloskan ke dalam kerangkeng tubuh lelaki dan badan perempuan, itu adalah konswensi lanjutan dari kesalahan tadi. Ketika keduanya bertemu dalam upacara asmaragama suami dan isteri, itu adalah konskwensi lebih lanjut lagi. Tapi tunggu dulu, ketika kemudian lahir bayi, masihkah itu kelanjutan dari kesalahan di alam atas itu ?

Saya tidak berani meladeni pikiran sendiri, bahwa semua kita ini adalah rentetan terujung dari sebuah lingkaran yang titik awalnya adalah kesalahan. Dan dengan meneruskan kehidupan ini, kita akan membuat lingkaran-lingkaran kesalahan baru. Siapakah kita ketika sedang berhadapan dengan Kakawin Smaradahana?

SMARA RATIH, yang tanpa mengembara di dunia dari hati ke hati. Di setiap persinggahan hati mereka bekerja, membangkitkan rindu, mendorong-dorong agar terja­di pertemuan. Tidak setiap yang me­mujanya akan disinggahi. Dan tidak setiap yang tidak memujanya tidak akan dis­inggahi.
Ia benar-benar hidup. Ia tahu di hati mana mesti menabur benih. Dan mereka tidak mengatakan rahasianya. Orang yang mengetahui rahasia itu, bukan karena mem­baca, bukan pula karena tidak membaca. Bukan karena puasa, bukan pula karena tidak puasa. Tidak ada jalan, kecuali Smara Ratih itulah jalan.

Suksma, rahasya, tepet, itulah ciri perte­muan benih-benih mereka. Bila mereka se­dang bekerja, maka mulailah akan dirasa­kan hal-hal yang halus di dalam dan di 1uar diri ltulah suksma. Yang ramai menjadi sun­yi, yang biasanya dikatakan akhirnya dibisik­kan, dan yang biasanya dibisikkan menjadi tidak diucapkan.
Tidak ada yang melihat, karena yang melihat berubah menjadi yang dilihat. Itulah rahasya, pertemuan itu hanya sesaat. Tapi apalah sesaat, dan apalah artinya lama, bagi sebuah kedalaman. Dari yang sesaat terjadilah kesuburan, kehidupan, pen­ciptaan, wajah baru. ltulah yang disebut te­pet. Dari keadaan tepet inilah lahir apa yang orang sebut dengan istilah taksu. Tidak bisa dipelajari, tidak bisa dinanti. Ia terjadi oleh sebuah “pertemuan”.

Tidak bisa lain. Hanya dengan cara seper­ti itu Smara Ratih menyatakan diri ada. Smara Ratih pendatang baru di dunia, yang di daerah asalnya diusir karena kutukan akibat kesalahan fatal. Dewa datang dari jauh. Ia dipuja. Ia disembah. Ia diistanakan di dalam hati. Kepadanya orang menangis mengadu­kan penderitaan sepi hatinya. Kepadanya orang memohon bantuan agar bisa berdamai dengan kerinduan yang me1edak-1edak. Me­mang seperti itu alam berbicara. Ia yang men­ciptakan adanya rindu, dan kepadanya orang mencari obat kerinduan. Diciptakannya hati yang merana. Diberinya obat pada ke­meranaan hati itu. Kemudian dibuatkanlah oleh orang sebuah cerita. Bagaikan seutas tali, cerita yang dibangun kata-kata lebih erat mengikat pikiran orang-orang daripada tali itu sendiri.

Inilah yang dikatakan cerita selanjutnya.
Smara Ratih harus dipertemukan agar ke­hidupan terus ber1anjut. Tapi tidak sem­barang orang tahu bagaimana cara memper­temukan mereka. Tidak setiap senggama asmara badan berarti. pertemuan Smara Ratih. Tidak setiap pembuahan benih dan telur dihadiri Smara-Ratih. Oleh karena itu Shiwa sendiri yang kemudian turun untuk mempertemukan mereka. Kesuburan, tan­da kehidupan akan berlanjut, harus diada­kan. Maka Smara dan Ratih dipertemukan secara mistis disebuah bale paselang. Yantra, mudra, mantra tertuju pada kedua pasan­gan yang masih tertidur. Berbagai rentetan upacara digelar sebe1umnya. Pertemuan mis­tis itu adalah puncaknya. Smara adalah salah satu ujung duri. Ratih adalah ujung duri satunya 1agi. Perwakilan Shiwa di dunia berjuang untuk mempertemukan kedua ujung duri. Halus, suksma, gerakannya. Ra­hasya, itulah pertemuannya. Bila kedua ujung duri itu bertemu, itulah yang disebut tepet. Dengan penguasaan teknik, yang suksma, rahasya, tepet itu bisa diusahakan. Bisa di­adakan. Tinggal pembuktiannya saja. Apa­kah setelah itu kehidupan akan menjadi leb­ih bagus, atau tidak. Untuk itu perlu diket­ahui dengan apakah itu bisa dirasakan?

Pertemuan Smara Ratih adalah masalah guna, kualitas. Banyakn­ya bayi-bayi yang dilahirkan bukan sebuah pertanda keberlangsungan kehidupan. Melimpahnya hujan, berlipatnya hasil panen juga bukan. Semakin banyak yang bisa dikon­sumsi, juga bukan. Kehidupan tidak dititip­kan keberlangsungannya pada “yang bany­ak” itu. Tapi ada apa?
Jawabannyapun dititip­kan pada cerita. Pada ceritalah orang kemba­li. Dan di dalam cerita, sekali lagi, bukan ke­pastian yang didapatkan tapi kemungkinan-kemungkinan. Orang harus merasa cukup . dengan kemungkinan-kemungkinan itu. Ingin lebih dari itu, lobha namanya. Lobha itu­lah awal kematian.

Tapi ada cerita lain. Orang yang ingin be­bas dari lingkaran roda kelahiran, bebas dari putaran hidup mati, harus tahu cara memis­ahkan Smara dan Ratih. Ada beberapa pe­san yang disampaikan tentang pemisahan ini. Pasahakna ikang purusa lawan pradha­na.
“pisahkanlah Purusan dengan Pradhana”. Mempertemukan dan memisahkan. Men­yatukan dan menguraikan. Mabhanda bhe­da, mengikat dan melepaskan. Seperti main layangan, mengulur dan menarik. Tahu dari mana dan kemana angin bertiup. Pada saat­nya angin (baca: bayu) pulalah yang memis­ahkan Purusha dengan Pradhana. Tapi ke­sadaran tidak sama dengan layang-layang putus. Tubuh ini tidak persis sama dengan tali. Metafora tidak pernah persis sama den­gan kenyataan.

Itulah yang hendak dicontohkan oleh Shi­wa ketika meninggalkan istrinya, dan menggelar tapa.
Shiwa, rajanya para perta­pa, masih menggelar tapa? Ya, begitu yang dikatakan cerita. Tidak lebih dan tidak kurang. Shiwa saja masih bertapa. Mataha­ri saja masih bekerja. Laut saja masih ge­lisah. Gunung saja masih memendam panas di dadanya. Angin saja masih menempuh arah. Apalagi Kama dan Ratih yang ada dalam penjara badan.

Ketika Kama berusaha menarik Shiwa kembali ke istri, Shiwa pun mematikan
Kama detik itu juga. Apa yang hendak dis­ampaikan oleh Shiwa dengan mematikan Kama? Kehidupan ini harus dikalahkan. ltu­lah? Mengapa kemudian Shiwa meralatnya, karena permintaan dari dua orang “ibu”, yang satu Ratih dan satunya lagi Uma. Kenapa ia menghidupkan kembali Kama dan mengir­imnya ke Mertyupada?

Bumi ini disebut mertyapada yang berar­ti tempat dimana ada kematian, bukan tem­pat di mana ada kehidupan. Apakah itu pertanda kelak Smara dan Ratih juga akan mati di mertyupada ini?
Atau, mereka hanya transit sebentar di tubuh dan jiwa orang-or­ng yang pasti akan mati? Ternyata ada cerita lain. Kanan yang pas­ti mati hanyalah yang dilahirkan, dan yang memiliki tubuh. Yang tidak dilahirkan (a-ja) tidak akan mati. Yang tidak memiliki tubuh (anangga) tidak akan mati. Jadi, Kama Ratih tidak akan mati. Mereka juga tidak akan kembali ke asalnya. Mereka akan terus saja nengembara di dunia ini, sebagai Sanmatta dan Indu. Shiwa sendirilah sesungguhnya Mahaka­ma itu. Shiwa terus bekerja, dan masih bek­erja. ☼IBM Dharma Palguna. (Balipost - Apresiasi).

Selasa, 17 Juni 2008

MENELUSURI KAWITAN MAHA GOTRA TIRTA HARUM

I Dewa Gede Bagus
OM SWASTYASTU
Penulis seidentik dengan pendapat atau anggapan sementara orang, khususnya Maha Gotra Tirta Harum, yang berorientasi pada Pura Tirta Harum sebagai Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum, ini ada benarnya karena leluhur Maha Gotra Tirta Harum dilahirkan di Tirta Harum.
Tapi kini penulis akan mencoba mengutarakan bahwa disamping Pura Kawitan Tirta Harum, masih ada lagi Pura Kawitan yang lain yang belum dikenal oleh para pembaca dan khususnya oleh para kebanyakan Maha Gotra Tirta Harum.
Sebagai jawaban atas pertanyaan : Putra siapakah bayi yang dilahirkan di Tirta Harum, dan dimana stana beliau tempat melakukan Tapa Yoga Semadi.
Berdasarkan Lontar Pura Dalem Sila Adri, satu-satunya sumber yang penulis temukan, mengutarakan pada pokoknya sebagai berikut :
Disebutkan dalam Lontar bahwa, beliau yang bergelar Danghyang Subali berstana di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) membangun stana tempat beryoga di Pura Bukit Batur (150 m disebelah timur Pura Tirta Harum). Dan daerah di sekitar pesraman tersebut diberi nama Brasika yang berarti ikan Nyalian.
Disamping membangun stana tempat melakukan Tapa Yoga, beliau juga membangun dua buah permadian yaitu : Tirta Harum dan Taman Bali. Permandian taman ini diberi nama Taman Bali, karena dibangun oleh Danghyang Subali, sampai daerah sekitarnya disebut Desa Taman Bali. Ditilik dari kedua nama Brasika dan Taman Bali adalah dua nama satu sumber pencipta yaitu Danghyang Subali yang mengandung makna, ikan tanpa taman hidupnya susah, taman tanpa ikan airnya jadi kotor, dan akan jadi harmonis bila kedua unsur ini menyatu.
Ketika Danghyang Subali menciptakan permandian Tirta Harum, beliau bersemedi di tebing sungai Melangit : "Umijil Ertalia Merik" mengalirlah air pancuran yang baunya sangat harum, sehingga tempat mijilnya Tirta tersebut disebut Tirta Harum, dan daerah sekitarnya berbau wangi diberi nama Tegalwangi, dan bau harum ini menyusup ke Utara Timur sampai ke daerah Selat, daerah Masih Mabo, dan Daerah Empah, yang ceritanya telah berbataskan daerah Selat masih berbau harum "Masih Mabo", dan bau ini baru berkurang di daerah Empah, yang sampai sekarang daerah-daerah ini dipakai nama subak yaitu Subak Selat, Subak Sibo, dan Subak Lempah. Semua subak-subak ini Tirta Harum yang terletak di Banjar Tegalwangi termasuk Wilayah Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung.
Diceritakan lebih lanjut setelah beliau Danghyang Subali selesai melakukan Tapa Yoga di tempat ini, dan akan kembali ke Jawa yaitu Gunung Semeru, dan sebelum meninggalkan Pesraman tempat beryoga, beliau menyerahkan Pesraman dan kedua Permandian tersebut kepada adik beliau yang berstana di Kenteling Jagat (Kentel Gumi) di daerah Tusan yang bergelar, Danghyang Sri Aji Jaya Rembat, yang juga berstana di Guliang.
Atas perintah Danghyang Subali, Danghyang Jaya Rembat menggantikan Danghyang Subali berstana di Bukit Batur, dan sejak itu nama Bukit Batur dirubah menjadi Dalem Sila Adri. Sila berarti Batu dan Adri berarti Gunung/Bukit. Jadi Sila Adri berarti Gunung Batu.
Pada hari Tanggal Tahun Saka (ada dimuat dalam Lontar) Danghyang Jaya Rembat berangkat dari Dalem Sila Adri ke Tirta Harum. Sampai di Tirta Harum dikisahkan oleh penulis jaman dulu ditemukan bahwa air pancuran "aseret" yang berarti lobang itu tertutup oleh bayi dan bayi tersebut sulit untuk dilahirkan, tapi berkat keahlian Danghyang Sri Aji Jaya Rembat sebagai Dukun, Bayi tersebut bisa dilahirkan dengan selamat, terus dimandikan di air pancuran, sehabis dimandikan lalu ditaruh disuatu tempat "Loring Tukad Melangit" di sebelah utara Tukad Melangit (Jero Puri) diberi alas daun kayu jati dibawah kayu teges. "Anangis tang rare tan papegatan (menangis bayi itu tanpa henti-hentinya), menjadikan Danghyang Jaya Rembat kewalahan lalu memuja beliau Danghyang Subali, agar beliau berkenan hadir. Tidak berselang lama, kemudian Danghayang Subali tiba di tempat itu lalu bersabda : "Iki maka anakku panugrahan Danghyang Wisnu Bhuana patemone ring Diah Jung Asti, wenang ikang ari Angerembat", (artinya : ini adalah putraku penugrahan Danghayang Wisnu Bhuana, dalam perkawinan dengan Diah Jung Asti, patut adikku memeliharanya).
Siapakah yang bergelar Diah Jung Asti ?. Penulis jaman dulu biasanya enggan menyebutkan nama sebenarnya karena tidak etik. Ditinjau dari arti nama Diah Jung Asti Diah berarti Putri Raja, Jung berarti Bukit, Asti berarti Dasar. Jadi Diah Jung Asti berarti Raja Putri yang berstana di kaki bukit. Dan kalau dihubungkan dengan Danghyang Wisnu Bhuana, Danghyang berarti Dewa, Wisnu berarti Air, Bhuana berarti Darat. Jadi Danghyang Wisnu Bhuana berarti Dewa penguasa air di darat. Jadi secara keseluruhan dapat diartikan dan dihubung-hubungkan : Raja Putri yang berstanana di dasar kaki bukit sebagai penguasa air di darat. Apakah tidak mungkin yang dimaksud Diah Jung Asti dalam kiasan tersebut adalah Raja Putri Dewi Ulun Danu, dan kalau pendapat ini bisa diterima, maka Kentel gumi, Dalem Sila Adri dan Ulun Danu keberadaannya hampir bersamaan. Hal ini dapat diperkuat dengan bukti bahwa : Untuk menghormati jasa beliau Dewi Ulun Danu, maka didekat pura Kentel Gumi dibangun pura Ulun Danu.
Disebutkan pula bahwa bayi tersebut oleh Danghyang Subali dianugrahi Gelar "I Dewa Gede Angga Tirta", dan setelah dewasa diberi gelar : "I Dewa Gede Sang Anom Bagus". Jadi jelaslah bahwa titel "I Dewa Gede" adalah penugrahan Danghyang Subali kepada putra yang lahir di Tirta Harum dan keturunannya..................................................
Tidak diceritakan kisah perjalanan Danghyang Subali, diceritakan beliau Danghyang Sri Aji Jaya Rembat "Ngemong Tang Rare" memelihara putra tersebut di Dalem Sila Adri, dan kadang-kadang juga berada di Guliang, dan setelah beberapa tahun lamanya I Dewa Gede Angga Tirta menjadi dewasa dan telah bergelar I Dewa Gede Sang Anom Bagus.
Dihentikan cerita ini, diceritakan sekarang beliau Dalem Sekarangsana berstana di Gelgel. Dalem Sekarangsana dikaruniai seorang putri bergelar "I Dewa Ayu Mas Dalem", konon beliau dalam keadaan sakit. Oleh Dalem Sekarangsana diminta agar Danghyang Sri Aji Jaya Rembat berkenan datang ke Gelgel untuk mengobati I Dewa Ayu Mas Dalem. Dan sekali saja diobati oleh Danghyang Jaya Rembat I Dewa Ayu Mas Dalem sembuh sepeti semula. Akan tetapi kemudian I Dewa Ayu Mas Dalem diindap penyakit lain yaitu sakit edan. Setelah beberapa kali diobati oleh Danghyang Jaya Rembat dengan japa mantra dan segala husada telah digunakan, tetapi I Dewa Ayu Mas Dalem tak kunjung sembuh. "Anangis ta sira Dalem Sekarangsana" (bersedihlah hati beliau Dalem Sekarangsana), dan menyerahkan I Dewa Ayu Mas Dalem untuk ikut Danghyang Jaya Rembat ke Pesraman. Sampai di Dalem Sila Adri sakitnya menjadi sembuh karena bertemu pandang dengan I Dewa Gede Sang Anom Bagus dan apabila pulang ke Gelgel sakitnya kambuh lagi. Oleh karena itu agak lama beliau tidak pulang ke Gelgel, senang tinggal di Dalem Sila Adri hatinya terpikat oleh seorang pemuda "Warnaning bagus apekik" yang sangat ganteng rupawan yaitu I Dewa Gede Sang Anom Bagus, maka terjalinlah cinta kasih kedua insan berlainan jenis ini. Ketika I Dewa Ayu Mas Dalem sedang mandi di pancuran Tirta Harum diketahui oleh Dayang dari tanda-tanda perubahan biologis, bahwa I Dewa Ayu Mas Dalem telah hamil. Dayang segera melaporkan hal itu kepada Dalem Sekarangsana, bahwa I Dewa Ayu Mas Dalem telah hamil, Dalem Sekarangsana menjadi marah, serta memerintahkan para sikep yudha/prajurit Gelgel untuk menangkap I Dewa Gede Sang Anom Bagus. Prajurit bersenjata Gelgel segera berangkat dari Gelgel menuju Guliang dan stana Guliang ditemukan dalam keadaan sepi, lalu berbelok ke timur turun ke Tukad Melangit naik keatas Bukit Sila Adri. Pada saat itu Danghyang Jaya Rembat sedang melakukan Puja Astawa, tahu akan tentang tujuan prajurit Gelgel tersebut, lalu menghilang di atas tilam tempat duduk. Setibanya prajurit Gelgel di Dalem Sila Adri, pesraman kelihatan sepi, namun usaha pencarian terus dilakukan, kemudian terdengar berita bahwa ada seorang pemuda rupawan sedang berburu/memikat burung perkutut di Hutan Jarak Bang. Prajurit Gelgel berangkat ke Jarak Bang dan menemukan I Dewa Gede Sang Anom Bagus sedang berburu, lalu ditangkap "tinalian", diikat dibawa ke Gelgel bersama dengan Danghyang Jaya Rembat. Tidak diceritakan dalam perjalanan sampailah di Gelgel. I Dewa Gede Sang Anom Bagus dihaturkan kepada Dalem. Dalem menjadi marah dan memutuskan dalam sidang bahwa I Dewa Gede Sang Anom Bagus patut dijatuhi hukuman mati, karena berani dengan kedudukan Dalem. Bersedihlah beliau Danghyang Jaya Rembat, sebelum hukuman mati terhadap I Dewa Gede Sang Anom Bagus dilaksanakan, Danghyang Jaya Rembat sempat memuja Danghyang Subali agar beliau berkenan hadir ke Gelgel karena putra I Dewa Gede Sang Anom Bagus tertimpa bahaya. Tidak lama kemudian datang Danghyang Subali di Gelgel serta bersabda ; "Iki anakku panugrahan Danghyang Wisnu Bhuana, wenang ajatu karma kelawan I Dewa Ayu Mas Dalem apan amisan" (artinya ini adalah putraku panugrahan Danghyang Wisnu Bhuana, patut dijodohkan dengan I Dewa Ayu Mas Dalem karena besepupu). Mendengar sabda itu luluhlah hati beliau Dalem Sekarangsana, I Dewa Gede Sang Anom Bagus tidak jadi dibunuh, bahkan sebaliknya dibuatkan upacara perkawinan di Gelgel, setelah diupacara lalu dibuatkan Puri disebelah utara Bencingah Gelgel dan diberi Gelar "Cokorde Den Bencingah". Jadi titel Cokorde pertama kali disandang oleh Putra Tirta Harum atas panugrahan Dalem Sekarangsana, adalah orang yang sehari-harinya dekat dengan Dalem baik ditinjau dari hubungan darah maupun kedudukan dalam struktur Istana Dalem. Karena I Dewa Sang Anom Bagus adalah Putra pertapa tidak lama tinggal di Gelgel kembali melakukan Tapa Yoga ke Kaki Gunung Agung, dengan meninggalkan istrinya I Dewa Ayu Mas Dalem dalam keadaan hamil, dengan pesan : bayi yang masih dalam kandungan bila lahir kemudian diberi nama I Dewa Gede Garba Jata "karena dikejar oleh prajurit bersenjata ketika hamilnya".
Setelah cukup umur dalam kandungan lahirlah bayi tersebut dan oleh Sang Ibu diberi nama I Dewa Gede Garba Jata. Sangat disayang oleh Dalem karena Dalem belum berputra, saking sayangnya Dalem kepada putra ini sering tertidur dipangkuan Dalem. Ketika Dalem tidak ada pergi ke Uluwatu, Putra tersebut menunggu dan tertidur pada singasana Dalem, sekembali Dalem dari bepergian, pengiring Dalem yang bernama Ki Jambul Pule membawa tilam/tempat duduk Dalem, dengan tanpa memperhatikan lalu menaruh tilam tersebut di atas singasana Dalem, tahu-tahu putra tersebut ditindih tilam, Ki Jambul Pule jadi gemetar akan kesalahannya, tapi Dalem mengampuninya serta bersabda : Seketurunan Putra ini bila menjadi Raja patut diberi Gelar "I Dewa Gede Tangkeban".
Beberapa tahun telah lampau dewasalah Putra I Dewa Gede Garba Jata, menanyakan kepada Sang Ibu siapa nama ayah dan dimana beliau berada. Dijawab oleh Sang ibu bahwa sang ayah bernama : I Dewa Gede Sang Anom Bagus sedang menjalani Tapa Yoga di Kaki Gunung Agung.
Berangkatlah I Dewa Gede Garba Jata dengan pengiring ke Kaki Gunung Agung, lama dicari akhirnya bertemu dengan seorang pertapa yang sedang "Amono Brata" sedang melakukan meditasi dan tubuhnya ditumbuhi lumut, I Dewa Gede Garba Jata lalu besimpuh dan memohon agar pertapa berkenan "Angelebaraken Mono Brata" melepaskan tapanya dan ketika ditanya Sang Putra mengaku bernama I Dewa Gede Garba Jata, teringatlah Sang Pertapa bahwa I Dewa Gede Garba Jata adalah Putranya, serta Sang Putra memohon agar Sang Ayah bekenan untuk pulang karena ditunggu Sang Ibu, tapi permohonan Sang Putra tidak terkabulkan, dengan pesan pewarah-warah sebagai berikut : Jangan berani kepada kedudukan Dalem Gelgel, dan akan menjadi Raja di Tamanbali. Setelah panugrahan selesai beliau Sang Pertapa (I Dewa Gede Sang Anom Bagus) lalu menghilang atau moksah setelah disembah oleh I Dewa Gede Garba Jata. sejak itu batu tempat moksahnya I Dewa Gede Sang Anom Bagus disebut Batu Madeg.
Dengan perasaan senang dan berbaur sedih pulanglah I Dewa Gede Garba Jata langsung ke Gelgel, tidak lama kemudian karena sangat disayang oleh Dalem I Dewa Gede Garba Jata dianugrahi Daerah lalu diangkat menjadi Raja Tamanbali dengan Gelar I Dewa Gede Tangkeban. Kemudian diceritakan Raja Tamanbali berputra tiga orang pertama I Dewa Gede Pering menjadi Raja di Brasika/Nyalian dengan pusat Penataran Sri Serengga, kedua Raja Bangli dengan pusat Penataran Bangli, dan ketiga Raja Tamanbali berpusat di Penataran Agung Tamanbali, (ketiga kerajaan ini memiliki Babad sendiri-sendiri) Babad Tamanbali, Babad Nyalian, Babad Bangli.
Kembali diceritakan beliau Danghyang Jaya Rembat berstana di Dalem Sila Adri. "Kunang ana ta muwah stria listuayu aminta lugraha ri sih ira Danghyang Jaya Rembat anguntap pengrupak ira, maharepa manebas daun pisang ......................................................"
Adalagi seorang wanita cantik memohon panugrahan cinta kasih beliau Danghyang Jaya Rembat agar berkenan memberikan meminjam pengerupak beliau, akan dipakai memetik daun pisang, permohonan tersebut dikabulkan dengan pesan jangan diselipkan pada pinggang, lupa wanita itu akan pesan tersebut, lalu setelah dipakai pengerupak tersebut dengan tidak disadari diselipkan dipinggangnya lalu hamillah wanita itu dan dari kehamilannya ini lahirlah seorang bayi yang diberi nama Ki Dukuh Suladri, diambil dari nama Dalem Sila Adri, yang kemudian membangun pedukuhan di tempat permandian Danghyang Jaya Rembat di bukit Empul Taman Sari, sampai sekarang tempat ini dinamakan Banjar Dukuh yang letaknya tidak jauh dari Dalem Sila Adri dan Tirta Harum di tepi Sungai Melangit termasuk Daerah Brasika/Desa Nyalian Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.
Tidak diceritakan dimana beliau Danghyang Jaya Rembat Moksah, diceritakan Ki Dukuh Suladri tinggal di Pedukuhan di Taman Sari. Propesinya sama dengan Danghayang Jaya Rembat sebagai dukun dan pertapa yang juga ngemong Pura Dalem Sila Adri, datanglah ke pedukuhan dua orang Putri cantik "tosing Majapahit" keturunan majapahit (tidak disebutkan namanya) "melapu-lapu maserana kulit bawang tumiber ring Pasar Agung" pergi tanpa arah seperti kulit bawang di pasar dihembus angin sampailah kedua Putri tersebut di Padukuhan Ki Dukuh Suladri, hendak dijadikan anak angkat oleh Ki Dukuh Suladri, Ki Dukuh Istri tidak setuju, karena dalam perkawinannya telah dikaruniai keturunan. Tidak lama kemudian didengar oleh Dalem Gelgel bahwa Ki Dukuh Suladri ada memelihara dua orang Putri cantik, Dalem Gelgel datang ke Dalem Sila Adri "Masanekan" istirahat disana sambil menunggu kedatangan Ki Dukuh Suladri, tidak lama datang menghadap Ki Dukuh Suladri menghaturkan buah-buahan (pala gantung) kepada Dalem, pada kesempatan tersebut Dalem Gelgel menyampaikan kehendaknya akan mengawini Putri Keturunan Majapahit tersebut yang dipelihara oleh Ki Dukuh Suladri, Ki Dukuh Suladri tidak bisa berbuat banyak lalu menghaturkan putri Majapahit yang ke dua, dan yang pertama tinggal bersama dengan Ki Dukuh di Pedukuhan. Pendek ceritera Dalem mengawini putri nomor dua Tosing Majapahit "keturunan Majapahit" itu lalu berputra Pungakan Den Bencingah yang disebut juga Pungakan Den Kuta, yang berkuasa di Brasika sebelum Putra Tamanbali dengan membawa keris Ki Lobar. (tidak diceritakan hijrahnya Keris Ki Lobar dari tangan Pungakan Den Bencingah ke tangan Raja Tamanbali). Sejak perkawinan ini Ki Dukuh Suladri sangat disayang oleh Dalem Gelgel selaku besan dianugrahi rakyat sebanyak "Rong Atus" 200 orang dan dipindahkan kedudukannya memegang kekuasaan dari Banjar Padukuhan ke Daerah lain (tidak disebutkan nama Daerah, mungkin dimuat dalam Babad Ki Dukuh).
Setelah Dalem selesai memegang tapuk pemerintahan di Gelgel datang ke Desa Bakas akan mengadakan pertemuan dengan Putra beliau Pungakan Den Bencingah yang berkuasa di Brasika/Nyalian, setelah panugrahan atau pesan-pesan diterima oleh Putra Dalem Pungakan Den Bencingah beliau "ayat moksah" akan menghilang dan pada saat itu Pungakan Den Bencingah segera memeluk kaki Dalem Gelgel, tapi yang hanya dapat dipegang adalah kain yang dipakai oleh Dalem Gelgel (kancut) dan Kancut ini dipastu menjadi batu maka disebut Batu Kancut (sekarang disebut Batu Ngandang).
Ceritera moksahnya Dalem Gelgel di Desa Bakas, sekarang masih hidup dikalangan masyarakat secara turun temurun dan belum ditemukan sumbernya (mungkin dimuat dalam Babad Pungakan Den Bencingah/Pungakan Den Kuta) penulis menganggap perlu untuk diangkat sebagai bahan perbandingan dengan sumber-sumber lain yang masih ada di tangan Pembaca.
Dengan terbatasnya sumber lontar yang penulis pakai dasar, maka sangat terbatas pulalah sajian tulisan ini, dengan kerendahan hati penulis mohon kepada pembaca pada umumnya, khususnya para Sesepuh Maha Gotra Tirta Harum, dengan harapan dapat dikaji yang mengacu kepada kesempurnaan babad Maha Gotra Tirta harum.
Sebagai akhir kata cuma maaf yang penulis mohon, dan semoga kita bahagia lahir batin . (I Dewa Nyoman Gede Pinatih)
OM SANTI SANTI SANTI OM