Kamis, 25 September 2014

Kisah Kelahiran dan Kematian Bhisma

I Dewa Gede Bagus
Bisma (Sanskerta: भीष्म, Bhīshma) terlahir sebagai Dewabrata (Sanskerta: देवव्रत, Dévavrata), adalah salah satu tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putera dari pasangan Prabu Santanu dan Dewi Gangga. Ia juga merupakan kakek dari Pandawa maupun Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata, namun berganti menjadi Bisma semenjak ia bersumpah bahwa tidak akan menikah seumur hidup.


Bisma ahli dalam segala modus peperangan dan sangat disegani oleh Pandawa dan Korawa. Ia gugur dalam sebuah pertempuran besar di Kurukshetra oleh panah dahsyat yang dilepaskan oleh Srikandi dengan bantuan Arjuna. namun ia tidak meninggal pada saat itu juga. Ia sempat hidup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran para Korawa. Ia menghembuskan napas terkahirnya saat garis balik matahari berada di utara (Uttarayana).

Nama Bhishma dalam bahasa Sanskerta berarti "Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)", karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Bisma merupakan penjelmaan salah satu Delapan Wasu yang berinkarnasi sebagai manusia yang lahir dari pasangan Dewi Gangga dan Prabu Santanu. Menurut kitab Adiparwa, Delapan Wasu menjelma menjadi manusia karena dikutuk atas perbuatannya yang telah mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia untuk menjadi istri putera Raja Pratipa, yaitu Santanu.

Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.

Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir meninggal karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu mereka sendiri, Bisma berhasil selamat karena perbuatan ibunya dicegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian.

Setelah 36 tahun kemudian, Sang Prabu menemukan puteranya secara tidak sengaja di hilir sungai Gangga. Dewi Gangga kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris kerajaan.

Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapati, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup agar kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citrānggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup.

Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.

Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu Chiranjīwin yang hidup abadi sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma mahir dalam menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya.

Bisma berhenti belajar kepada Parasurama karena perdebatan mereka di asrama tentang masalah Amba. Pada saat itu dengan sengaja Bisma mendorong Parasurama sampai terjatuh, dan semenjak itu Parasurama bersumpah untuk tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya karena membuat susah.

Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.

Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), yang sebenarnya telah wafat.

Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdoa agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan.

Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.

Dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra, Bisma bertarung dengan dahsyat. Prajurit dan ksatria yang melawannya pasti binasa atau mengalami luka berat. Dalam kitab Bismaparwa dikatakan bahwa di dunia ini para ksatria sulit menandingi kekuatannya dan tidak ada yang mampu melawannya selain Arjuna – ksatria berpanah yang terkemuka – dan Kresna – penjelmaan Wisnu.

Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya.


Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan sikap Arjuna yang masih segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar Chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, namun justru bahagia jika gugur di tangan Madhawa (Kresna). Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, "O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!..."

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Sebelum hari kematiannya, Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma di malam hari untuk mencari tahu kelemahannya. Bisma mengetahui bahwa Pandawa dan Kresna telah masuk ke dalam kemahnya dan ia menyambut mereka dengan ramah. Ketika Yudistira menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk menaklukkan Bisma yang sangat mereka hormati, Bisma menjawab:


...ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung...
Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma enggan berperang, Arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya.

Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan kewajibannya. Meski Arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut. Pada hari kesepuluh, Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma.


Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan napasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Korawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai.

Sumber : http://wiracaritabali.blogspot.com

Nama-nama dari 100 Korawa

I Dewa Gede Bagus

Mungkin tidak banyak yang tahu siapa saja nama-nama dari 100 Korawa. Karena saking banyaknya, jadi agak susah untuk mengingat semua nama-nama tersebut. Yang paling dikenal pasti hanyalah Duryodana dan Dursasana saja. Karena kedua tokoh ini yang paling menonjol dalam kisah Mahabrata. Sebelum membahas semua nama-nama dari 100 Korawa, berikut adalah kisah singkat dari Korawa yang di ambil dari Wikipedia.com

Korawa atau Kaurawa (Dewanagari: कौरव; IAST: kaurava) adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang berarti "keturunan (raja) Kuru." Dalam budaya pewayangan Jawa, istilah ini merujuk kepada kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata, sehingga Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan putra. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, putranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera.

Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun.

Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putra-putra Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putra Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.

Setelah pertarungan sengit berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putra Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa.
Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima.

Yuyutsu adalah satu-satunya putra Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.


  1. Duryodana
  2. Dursasana
  3. Dursaha
  4. Dursala
  5. Jalaganda
  6. Sama
  7. Saha
  8. Winda
  9. Anuwinda
  10. Durdarsa
  11. Subahu
  12. Duspradarsa
  13. Durmarsana
  14. Durmuka
  15. Duskarna
  16. Karna
  17. Wikarna
  18. Sala
  19. Satwa
  20. Sulocana
  21. Citra
  22. Upacitra
  23. Citraksa
  24. Carucitra
  25. Sarasana
  26. Durmada
  27. Durwigaha
  28. Wiwitsu
  29. Wikatinanda
  30. Urnanaba
  31. Sunaba
  32. Nanda
  33. Upananda
  34. Citrabana
  35. Citrawarma
  36. Suwarma
  37. Durwimoca
  38. Ayobahu
  39. Mahabahu
  40. Citrangga
  41. Citrakundala
  42. Bimawiga
  43. Bimabela
  44. Walaki
  45. Belawardana
  46. Ugrayuda
  47. Susena
  48. Kundadara
  49. Mahodara
  50. Citrayuda
  51. Nisanggi
  52. Pasa
  53. Wrendaraka
  54. Dredawarma
  55. Dredaksatra
  56. Somakirti
  57. Antudara
  58. Dredasanda
  59. Jarasanda
  60. Satyasanda
  61. Sadasuwaka
  62. Ugrasrawa
  63. Ugrasena
  64. Senani
  65. Dusparaja
  66. Aparajita
  67. Kundase
  68. Wisalaksa
  69. Duradara
  70. Dredahasta
  71. Suhasta
  72. Watawiga
  73. Suwarca
  74. Adityaketu
  75. Bahwasa
  76. Nagadata
  77. Ugrasai
  78. Kawaci
  79. Kradana
  80. Kundi
  81. Bimawikra
  82. Danurdara
  83. Wirabahu
  84. Alolupa
  85. Abaya
  86. Dredakarma
  87. Dredaratasraya
  88. Anadrusya
  89. Kundabedi
  90. Wirawi
  91. Citrakundala
  92. Pramada
  93. Amapramadi
  94. Dirgaroma
  95. Suwirya
  96. Dirgabahu
  97. Sujata
  98. Kencanadwaja
  99. Kundasi
  100. Wirajasa
  101. Yuyutsu
  102. Dursala
Para Korawa (putra Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Yaitu Yuyutsu, anak Dretarastra tetapi lain ibu, ibunya seorang wanita waisya. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putri bernama Dursala.

sumber : http://wiracaritabali.blogspot.com/2014/09/nama-nama-dari-100-korawa.html

Senin, 12 Juli 2010

Kulkul

I Dewa Gede Bagus

SAMPUN majanten pisan sareng sami pawikan utawi uning ngeninin indik pidabdab kulkulé. Kulkul wantah kaanggé sarana komunikasi tradisional olih krama désa adat, banjar adat utawi sané siosan, nanging ring galahé becik puniki ngiring anggé magendu wirasa, nagingin sané kirang lan ngawuwuhin sané rangkungan, galahé puniki anggé paras-paros risajeroning pasemetonan.

Kulkul sampun majanten pisan malakar antuk kayu (taru), yéning pineh-pinehin risajeroning pikayunan, kayu ngaran ipun kayun, kayun punika wénten risajeroning angga sariran parajanané soang-soang, i rika raris pikayunan krama sareng sami mapupul risajeroning kulkul, napi mawinan asapunika? Sapa sira ugi yéning miragian utawi mirengang kulkulé masuara majanten sampun ring pikayunan krama désa adaté utawi krama banjar adaté ''nguda ya jani, kulkulé masuara utawi mamunyi, o suaran kulkulé banban, maka cihna krama désa adaté utawi krama banjar adaté pacang sangkep, sawiréh mangkin raina purnama''. Yéning seleh-selehin kawéntenan kulkul wantah kaanggé piranti nyikiang pikayunan kramané. Siosan ring punika kulkul wantah kaanggé piranti tatengeran tradisional risajeroning désa adat utawi banjar adat.

Nénten ja sakoda-koda utawi nyuarayang kulkul, kulkul katepak utawi kasuarayang, ritatkalaning mendak Ida Bhatara, ritatkalaning jagi ngalebar caru, ritatkalaning wénten meseh sané ngaranjing risajeroning désa sané madwé manah duhkita utawi ngusak asik kawéntenan désané, ritatkalaning wénten baya risajeroning désa, ritatkalaning wénten kasédayan utawi kamatian krama désané, ritatkalaning suryané kapaangan lan candrané kapaangan, tatepakan kulkulé manut tatepakan sané sampun kasungkemin. Upaminné yéning mendak Ida Bhatara tatepakan kulkulé upaminné sakadi puniki: ding, dang, ding, dung. dang, ding, dang, dung, lan selanturnyané. Suaran kulkulé satmaka nyikiyang pikayunané utawita uleng pikayunané jagi janggra sapengerauh Ida Bhatara, tatiga suaran kulkulé, maka cihna ngeningan jiwa premanan (sabda, bayu, lan idep) kramané sané prasida pedek tangkil uleng baktiné ring Ida. Yéning wénten baya risajeroning désa adat tatepakan kulkulé bulus, upaminné tatepakané sakadi puniki: dung, dung, dung, dung, dung, dung, dung, suaran kulkulé asiki maka cihna mangda seregep utawi siaga nyanggra sapengerauh bayané. Baya risajeroning désa upaminné: wénten umah puun, wénten linuh utawi sané siosan, punika taler yéning jagi ngalebar caru tatepakan kulkulé dang, dung, dang-dang, dung, lan selanturnyané. Kulkulé katepak ngantos usan ngaleber caru, punika praciri sampun usan nyomia sang bhuta kala mangdannyané sang bhuta kala nénten ngambengin pamargin yadnyané. Suaran kulkulé kakalih mangda sifat-sifat jahat sang bhuta kala mangda mawah dados nénten jagat.

Kulkulé yadiastun malakar antuk kayu (taru), nanging kulkul punika prasida ngamel pikayunan kramané sareng sami. Yéning turéksain makéhan payasan kulkulé utawi saput kulkulé wantah nganggé saput poléng. Poléng nyané selem lan putih, warna kalih punika wantah rwa binéda, sané matetuek iwang patut, kaja kelod, kangin kauh, lan sané siosan. Asapunika teges kulkulé wantah sané ngamel pikayunan kramané.

Risampuné asapunika wénten baos anak lingsir rikalaning mapupul sareng pasemetonané baos dané sakadi puniki 'pereciri guminé lakar uug nadaksara kulkulé umahin tabuan''.

Olih I Nengah Konten

Selasa, 16 September 2008

SEKILAS TENTANG TRISANDYA

I Dewa Gede Bagus
Setelah sekian lama Trisandya diperdebatkan dalam HD-Net ini, khususnya mengenai bait yang kedua yang telah dipengal penterjemahannya yaitu : Tuhan yang Tak terlahirkan, Tuhan tidak ternodai, Tuhan tidak terpikirkan dan akhirnya cendrung dipelesetkan : “TUHAN TIDAK ADA” bersama ini perkenankanlah mengulas sedikit tentang Trisandya, yang sangat kental dengan hidup dan kehidupan kita khususnya yang beragama Hindu, dimana pemujaan Tuhan dengan kata-kata umunya dilaksanakan dengan sembahyang tiap-tiap hari, atau lazimnya dilakukan dengan sembahyang tigakali sehari yang sering disebut dengan istilah “PUJA TRISANDYA” Three = Tiga (3) Sandya = Kala / waktu. Jadi pemujaan yang dilakukan tiga kali sehari dalam kurun waktu tertentu, dipagi hari, siang hari dan sore hari.

Tehknis Puja Trisandya serta Tecks aslinya Mangku akan jelaskan pada kesempatan lain. Mangku akan menjelaskan secara universal purpose dari Trisandya itu mengandung tiga tujuan utama yang terdiri dari :

Bait Pertama dan kedua adalah merupakan ”PENGAJUM” atau memulyakan Bait ke III dan ke IV adalah merupakan ”STATEMENT” pernyataan diri Bait ke V dan ke VI merupakan ”HOPEFULLY” , khususnya permohonan maaf.
Mari kita mulai dari susunan mantram yang ada dalam Puja Trisandya.

Puja trisandya terdiri dari enam kumpulan mantram, mantram pertama disebut Gayatri mantram. Ritmenya-pun disebut dengan Gayatri, sedangkan irama-irama lainya misalnya Anustup, tristup, Canustup, Pragatah, Jagati, sedangka di Bali yang sering di iramakan oleh sulinggih adalah dengan Reng, Ritme Sloka (anak anak sekolah ) dan Cruti perhatikan di Bali TV bait I & II. agak beda dengan bait ke III dan seterusnya

1. Mantram Pertama Didalam Rg Veda III.62.10. Kata Bhur, Bvah, Svaha, tidak ada pada mantram ini, tambahan Bhur Bvah svaha ini didapatkan pada Yayur Veda Putih 36.3.

Gayatri Mantram adalah satu satunya mantram yang sering dilontarkan oleh Ide sang sulinggih, sedangkan yang lainnya adalah merupakan puja stava berupa sloka.
Gayatri mantram sering disebutkan sebagai ibu dari semua mantram, atau yang paling mulya, dibawah ini Mangku cuplikan statementnya yang berbunyi sebagai berikut:

”One reason why the Gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that cavable of possessing “dhi” higher intelligence which brings him knowledge, material and transcendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind

Wijaksara Om adalah hurup atau prenawa suci dalam agama Hindu, dengan Om seorang brahmana mulai mengucapkan “SEMOGA SAYA SAMPAI PADA BRAHMAN” Savitar Tuhan yang maha mulia, kemuliaan sumber dari cahaya cemerlang marilah kita memusatkan pikiran kepada sumber cahaya, semoga ia memberi semangat.

2. Sloka yang kedua.
Dalam sloka ini pemuja memuja tuhan seluruh sekalian alam, Tuhan suci tidak ternoda, Ia hanya tunggal tidak ada yang kedua. Sloka ini adalah satu dari suatu rangkaian sloka yg panjang disebut dengan Catur Veda Sirah.
Ini adalah salinan dari veda Narayanad upanisad, sebuah upanisad kecil. Supaya tidak penasaran Arti dari Bait ke II secara letterlijeknya adalah sebagai berikut.

Tuhan hanya ini, semua yang telah ada, dan yang akan ada, bebas dari noda, Bebas dari kotoran, bebas dari perubahan, tak dapat digambarkan yang maha suci Tuhan satu satunya tidak ada yang kedua.

3. Sloka yang ke III
Oleh Pemuja Tuhan yang tunggal, disebut dengan banyak nama, Iya disebut Siva, Mahadewa, Iswara, Prameswara, Brahman, Wisnu dan Rudra dan..... masih banyak lagi sebutan yang lainya.

4. Sloka yan ke IV. (statement )
Pemuja mengatakan pengakuan dirinya serba kurang, serba hina, serba lemah, Hina lahir dan bathin

5. Sloka yang ke V. ( Permohonan ampun ) Dalam sloka ini atas dosa, dosa, kekurangan dsbnya, pemohon memohonkan agar dilindungi dan dibersihkan atas segala noda.

6. Sloka yang ke VI ( Permohonan ampun dari dosa) Dosa yang keluar dari karya yang dilakukan, dari perkataan yang dilontarkan dan dari pemikiran memohon kepada Tuhan untuk diampuni.



Senin, 15 September 2008

KAMA DAN SMARA RATIH

I Dewa Gede Bagus

KEDUDUKAN Kama-Ratih di kerajaan Indraloka tidaklah ting­gi. Dalam bahasa sekarang bisa disebutmenengahke bawah. Kare­na itu, suami-istri itu bias disuruh­-suruh oleh dewa-dewa atasannya. Jenis suruhan tentu disesuaikan dengan bidang keahliannya, yaitu asmara.
Misalnya, ketika Dewi Uma sangat merindukan suaminya, Shiwa, yang sedang bertapa, ia menyuruh Dewa Kama untuk melakukan suatu mission impossible. Mis­inya adalah membuat Shiwa merindukan istrinya, sehingga ia pulang. Cara mem­buatnya rindu adalah dengan membang­kitkan hasrat birahi asmaranya. Uma tidak perlu menjelaskan bagaimana car­anya. ltu memang sudah pekerjaan sehari-hari Kama. Tapi karena yang akan digarap adalah Shiwa, dewa tertinggi, maka peker­jaan kali ini sangat berisiko. Kama harus ekstra hati-hati. Ia harus mengerahkan segala kemampuan dan intuisi, guna men­gantisipasi segala kemungkinan. Dan me­mang begitu pula pesan istrinya, Ratih, ketika melepas keberangkatan Kama.
“Hati-hatilah, Suamiku! Kesalahan sekecil apa pun akan berakibat fatal. Jangan pandang sepele kemarahan Shiwa! Was­padailah mata ketiganya”!

Maka,
Kama pun berangkat dengan perasaan cemas. Sampai di tempat perta­paan Shiwa, Kama sembunyi-sembunyi tidak berani memperlihatkan dirinya di hadapan Shiwa. Kalau sampai Shiwa me­lihat wajahnya, beliau akan langsung tahu apa maksudnya. Dan itu berarti kegagalan misinya. Karena ilmu asmara yang dimil­ikinya, adalah juga pemberian Shiwa. Jadi, posisinya sungguh tidak selevel, kama tidak ingin misinya gagal. Jika itu sampai terjadi, ia tidak akan punya muka di hada­pan Dewi Uma. Kredibilitasnya akan jatuh di hadapan khalayak dewa-dewa. Ia akan lama menyalahkan diri, merasa tidak profesional.

Maka dengan sangat ekstra hati-hati, Kama menyiapkan anak panah dan perlengkapannya. Sesuai dengan prose­dur pelepasan anak panah asmara. Kama melepaskan anak panah pertamanya. Te­pat mengenai sasaran bidik. Anak panah kedua dan seterusnya juga tidak meleset sedikit pun. Kama memang master di bidangnya.

Shiwa pun membuka mata dari keterpejamannya yang dalam. Hal pertama yang diingatnya adalah istri. Hal pertama yang ia ingat ten­tang istrinya adalah kemolekan tubuh dan kecantikan wajahnya. Bersamaan dengan itu, kenangan manis persenggamaan terakhir sebelum mereka berpisah muncul perlahan-lahan endapan kenangan.
Kenangan itu menarik-narikn­ya. Dan Shiwa pun sangat merindukan is­trinya. Ia ingin segera ada di
depan istrin­ya. Ia ingin senggama-asmara badan.
Pada momen kritis itu Shiwa melihat kelebatan Kama di tempat persembuny­ian. Detik itu juga Shiwa sadar, bahwa ker­induan asmaragamanya adalah ulah Kama. Untuk apa Kama ada di sekitar pertapaannya kalau bukan niat memper­mainkan libidonya. Kurang ajar! Berani­ -beraninya anak bau kencur itu. Bahwa per­tapaannya menjadi batal, itu adalah kesalahan Kama, bukan kesalahan dirinya.
Murkalah beliau, sebelum tahu apakah kedatangan Kama murni atas kemauan sendiri, atau atas suruhan orang lain. Sudah menjadi pengetahuan umum di alam dewa­-dewa, bila Shiwa sampai murka, itu artin­ya masalah yang sangat serius. Pasti akan jatuh korban kutukan. Melihat situasi ga­wat seperti itu, dan Kama sudah tidak mungkin berkelit, ia pun pasrah.

Lututnya gemetar. Semua kariernya akan berakhir saat itu juga, di tempat itu juga. Kutukan sudah pasti akan dijatuhkan. Entah kutu­kan apa akan diterimanya, itu harus di­nanti. Adakah yang lebih menyiksa dari­pada menanti kutukan?

Api menyambar-nyambar dari mata ketiga Shiwa.
Tidak tahu bagaimana harus melukiskan kedahsyatan api itu. Kama hangus gosong terbakar menjadi debu han­ya dalam hitungan detik. Tanpa ampun. Tanpa ada faktor-faktor yang meringankan hukuman. Di hadapan Shiwa semua fak­tor memberatkan si pesakitan. Jenis ke­salahan Kama sudah masuk ke dalam extraordinary crime. Durhaka. Lancang. Berakhirkah karier Kama? Ternyata tidak. Ratih, istri Kama, tidak bisa menerima kematian suaminya tanpa jasad. Tapi ia tidak punya posisi tawar apa pun di hadapan Shiwa. Yang bisa ia lakukan, sebagai dewi bawahan, tentu hanya memohon. Sudi apalah kiranya Shiwa mencabut kutukannya,dan mengembalikan Kama seutuhnya kepada dirinya. Untuk memperkuat permohonannya ia minta rekomendasl Dewi Uma, karena beliaulah yang mengirim Kama untuk melakukan mission impossible itu. Permohonan yang disampaikannya dengan derai air mata, cukup berhasil walau tidak seratus persen. Kesimpulannya: Shiwa berkenan menghidupkan kembali Kama, dengan beberapa persyaratan. Pertama, ia akan hidup kembali tapi tidak memiliki tubuh seperti sebelumnya. Kedua ia tidak boleh tinggal di alam dewa, tapi harus hidup jauh di dunia bawah sana bergabung dengan manusia. Ketiga di dunia dimana ada kematian (mertyupada) Kama bertugas menyusup kedalam hati tiap laki-laki.

Bagaimana dengan Ratih? Agar Ratih tidak terpisah dengan suaminya, iapun lantas digeseng, “bakar”, dan diturunkan ke dunia, juga tanpa tubuh, dengan tugas menyusup ke hati tiap perempuan. Di dunia yang disebut semacam ashrama itu, keduanya tidak akan leluasa bertemu semau mereka. Mereka dipisahkan oleh tubuh laki dan badan perempuan. Mereka hanya akan bertemu bila terjadi senggama asmara antara laki dan perempuan. Itupun kalau asmaragama itu benar. Bagaimana asmaragama yang benar ? Itu masalah
Sungguh tragis nasib Kama. Ironis perjalanan hidupnya. Ia menjalani sisa hidupnya dalam penjara bernama tubuh lelaki. Han­ya sesekali ia akan bertemu dengan pasan­gannya, yang dijebloskan ke penjara tubuh perempuan.

Pertemuan itu akan berlangsung seben­tar saja. Apa boleh buat, itu semua adalah konsekwensi dari sebuah tugas yang diem­bannya sebagai dewa bawahan.

Begitulah cerita Mpu Dharmaja dalam Kakawin Smaradahana, yang berarti “dahaga
asmara”. Mpu Dharmaja barangkali terharu dengan nasib Kama. Karena itu ia, menggubah sebuah kakawin. Tentu bukan karena ingin membuat kisah tokoh-tokoh yang dikalahkan, lantas beliau mengger­akkan alat tulisnya. Sebagai pembaca kita merasa diberitahu, bahwa kemenangan­-kemenangan Shiwa terjadi dengan pengor­banan, dewa lain. Dewa yang berkorban itu, seperti Kama, pada gilirannya menunjukkan “kemenangan” dimensi lain. Cuma, sudah lama sekali, perhatian kita tertuju pada kemenangan-kemenangan, dan hampir tidak kita perhatikan yang dikalahkan.

Padahal kita bersikeras ingin mendapatkan pemahaman yang utuh.

Karena sebuah kesalahan alam atas
Kama dan Ratih diturunkan ke dunia alam bawah. Ketika keduanya dijebloskan ke dalam kerangkeng tubuh lelaki dan badan perempuan, itu adalah konswensi lanjutan dari kesalahan tadi. Ketika keduanya bertemu dalam upacara asmaragama suami dan isteri, itu adalah konskwensi lebih lanjut lagi. Tapi tunggu dulu, ketika kemudian lahir bayi, masihkah itu kelanjutan dari kesalahan di alam atas itu ?

Saya tidak berani meladeni pikiran sendiri, bahwa semua kita ini adalah rentetan terujung dari sebuah lingkaran yang titik awalnya adalah kesalahan. Dan dengan meneruskan kehidupan ini, kita akan membuat lingkaran-lingkaran kesalahan baru. Siapakah kita ketika sedang berhadapan dengan Kakawin Smaradahana?

SMARA RATIH, yang tanpa mengembara di dunia dari hati ke hati. Di setiap persinggahan hati mereka bekerja, membangkitkan rindu, mendorong-dorong agar terja­di pertemuan. Tidak setiap yang me­mujanya akan disinggahi. Dan tidak setiap yang tidak memujanya tidak akan dis­inggahi.
Ia benar-benar hidup. Ia tahu di hati mana mesti menabur benih. Dan mereka tidak mengatakan rahasianya. Orang yang mengetahui rahasia itu, bukan karena mem­baca, bukan pula karena tidak membaca. Bukan karena puasa, bukan pula karena tidak puasa. Tidak ada jalan, kecuali Smara Ratih itulah jalan.

Suksma, rahasya, tepet, itulah ciri perte­muan benih-benih mereka. Bila mereka se­dang bekerja, maka mulailah akan dirasa­kan hal-hal yang halus di dalam dan di 1uar diri ltulah suksma. Yang ramai menjadi sun­yi, yang biasanya dikatakan akhirnya dibisik­kan, dan yang biasanya dibisikkan menjadi tidak diucapkan.
Tidak ada yang melihat, karena yang melihat berubah menjadi yang dilihat. Itulah rahasya, pertemuan itu hanya sesaat. Tapi apalah sesaat, dan apalah artinya lama, bagi sebuah kedalaman. Dari yang sesaat terjadilah kesuburan, kehidupan, pen­ciptaan, wajah baru. ltulah yang disebut te­pet. Dari keadaan tepet inilah lahir apa yang orang sebut dengan istilah taksu. Tidak bisa dipelajari, tidak bisa dinanti. Ia terjadi oleh sebuah “pertemuan”.

Tidak bisa lain. Hanya dengan cara seper­ti itu Smara Ratih menyatakan diri ada. Smara Ratih pendatang baru di dunia, yang di daerah asalnya diusir karena kutukan akibat kesalahan fatal. Dewa datang dari jauh. Ia dipuja. Ia disembah. Ia diistanakan di dalam hati. Kepadanya orang menangis mengadu­kan penderitaan sepi hatinya. Kepadanya orang memohon bantuan agar bisa berdamai dengan kerinduan yang me1edak-1edak. Me­mang seperti itu alam berbicara. Ia yang men­ciptakan adanya rindu, dan kepadanya orang mencari obat kerinduan. Diciptakannya hati yang merana. Diberinya obat pada ke­meranaan hati itu. Kemudian dibuatkanlah oleh orang sebuah cerita. Bagaikan seutas tali, cerita yang dibangun kata-kata lebih erat mengikat pikiran orang-orang daripada tali itu sendiri.

Inilah yang dikatakan cerita selanjutnya.
Smara Ratih harus dipertemukan agar ke­hidupan terus ber1anjut. Tapi tidak sem­barang orang tahu bagaimana cara memper­temukan mereka. Tidak setiap senggama asmara badan berarti. pertemuan Smara Ratih. Tidak setiap pembuahan benih dan telur dihadiri Smara-Ratih. Oleh karena itu Shiwa sendiri yang kemudian turun untuk mempertemukan mereka. Kesuburan, tan­da kehidupan akan berlanjut, harus diada­kan. Maka Smara dan Ratih dipertemukan secara mistis disebuah bale paselang. Yantra, mudra, mantra tertuju pada kedua pasan­gan yang masih tertidur. Berbagai rentetan upacara digelar sebe1umnya. Pertemuan mis­tis itu adalah puncaknya. Smara adalah salah satu ujung duri. Ratih adalah ujung duri satunya 1agi. Perwakilan Shiwa di dunia berjuang untuk mempertemukan kedua ujung duri. Halus, suksma, gerakannya. Ra­hasya, itulah pertemuannya. Bila kedua ujung duri itu bertemu, itulah yang disebut tepet. Dengan penguasaan teknik, yang suksma, rahasya, tepet itu bisa diusahakan. Bisa di­adakan. Tinggal pembuktiannya saja. Apa­kah setelah itu kehidupan akan menjadi leb­ih bagus, atau tidak. Untuk itu perlu diket­ahui dengan apakah itu bisa dirasakan?

Pertemuan Smara Ratih adalah masalah guna, kualitas. Banyakn­ya bayi-bayi yang dilahirkan bukan sebuah pertanda keberlangsungan kehidupan. Melimpahnya hujan, berlipatnya hasil panen juga bukan. Semakin banyak yang bisa dikon­sumsi, juga bukan. Kehidupan tidak dititip­kan keberlangsungannya pada “yang bany­ak” itu. Tapi ada apa?
Jawabannyapun dititip­kan pada cerita. Pada ceritalah orang kemba­li. Dan di dalam cerita, sekali lagi, bukan ke­pastian yang didapatkan tapi kemungkinan-kemungkinan. Orang harus merasa cukup . dengan kemungkinan-kemungkinan itu. Ingin lebih dari itu, lobha namanya. Lobha itu­lah awal kematian.

Tapi ada cerita lain. Orang yang ingin be­bas dari lingkaran roda kelahiran, bebas dari putaran hidup mati, harus tahu cara memis­ahkan Smara dan Ratih. Ada beberapa pe­san yang disampaikan tentang pemisahan ini. Pasahakna ikang purusa lawan pradha­na.
“pisahkanlah Purusan dengan Pradhana”. Mempertemukan dan memisahkan. Men­yatukan dan menguraikan. Mabhanda bhe­da, mengikat dan melepaskan. Seperti main layangan, mengulur dan menarik. Tahu dari mana dan kemana angin bertiup. Pada saat­nya angin (baca: bayu) pulalah yang memis­ahkan Purusha dengan Pradhana. Tapi ke­sadaran tidak sama dengan layang-layang putus. Tubuh ini tidak persis sama dengan tali. Metafora tidak pernah persis sama den­gan kenyataan.

Itulah yang hendak dicontohkan oleh Shi­wa ketika meninggalkan istrinya, dan menggelar tapa.
Shiwa, rajanya para perta­pa, masih menggelar tapa? Ya, begitu yang dikatakan cerita. Tidak lebih dan tidak kurang. Shiwa saja masih bertapa. Mataha­ri saja masih bekerja. Laut saja masih ge­lisah. Gunung saja masih memendam panas di dadanya. Angin saja masih menempuh arah. Apalagi Kama dan Ratih yang ada dalam penjara badan.

Ketika Kama berusaha menarik Shiwa kembali ke istri, Shiwa pun mematikan
Kama detik itu juga. Apa yang hendak dis­ampaikan oleh Shiwa dengan mematikan Kama? Kehidupan ini harus dikalahkan. ltu­lah? Mengapa kemudian Shiwa meralatnya, karena permintaan dari dua orang “ibu”, yang satu Ratih dan satunya lagi Uma. Kenapa ia menghidupkan kembali Kama dan mengir­imnya ke Mertyupada?

Bumi ini disebut mertyapada yang berar­ti tempat dimana ada kematian, bukan tem­pat di mana ada kehidupan. Apakah itu pertanda kelak Smara dan Ratih juga akan mati di mertyupada ini?
Atau, mereka hanya transit sebentar di tubuh dan jiwa orang-or­ng yang pasti akan mati? Ternyata ada cerita lain. Kanan yang pas­ti mati hanyalah yang dilahirkan, dan yang memiliki tubuh. Yang tidak dilahirkan (a-ja) tidak akan mati. Yang tidak memiliki tubuh (anangga) tidak akan mati. Jadi, Kama Ratih tidak akan mati. Mereka juga tidak akan kembali ke asalnya. Mereka akan terus saja nengembara di dunia ini, sebagai Sanmatta dan Indu. Shiwa sendirilah sesungguhnya Mahaka­ma itu. Shiwa terus bekerja, dan masih bek­erja. ☼IBM Dharma Palguna. (Balipost - Apresiasi).

Rabu, 13 Agustus 2008

Warga Kapit Tewas di Sungai

I Dewa Gede Bagus
Warga Banjar Kapit, Nyalian, Banjarangkan, Rabu (13/8) kemarin geger. Menyusul, ditemukannya mayat Ni Nyoman Renyem (70), warga setempat mengambang di Tukad Sibo desa setempat setelah menghilang dari ruamhnya beberapa hari lalu. Kondisinya menggenaskan, bagian wajahnya rusak dan salah satu bagian matanya hilang.

Mayat korban dilihat pertama kali oleh warga setempat, Nyoman Taya (32). Sekitar pukul 14.00 wita, Taya sedang mencari kayu untuk pagar di pinggir sungai. Dia dikagetkan sesosok tubuh manusia dengan posisi telungkup di sela bebatuan. Taya menginformasikan temuannya kepada warga sekitar.

Warga sempat tak mengenali wajah korban, karena bagian kepalanya tenggelam. Saat diangkat, bagian wajahnya rusak dengan satu bola mata hilang. Diduga, akibat dimakan biawak. Diperkirakan korban tewas setelah terpeleset dari mulut jurang saat membersihkan gabah. Korban terjatuh ke sungai dan hanyut. Korban diduga meninggal sejak Selasa (12/8) lalu. Dari tubuhnya, tercium bau busuk.

"Terakhir, saya melihat dia (korban, red) hari Selasa. Karena sibuk di banjar ada upacara pengebenan, saya tidak tahu persis kapan dia meninggalkan rumah," ujar keponakan korban, Wayan Tagel. Rencananya, jenazah korban akan dikubur. Tetapi masih dicarikan hari baik. (kmb20)

Jumat, 08 Agustus 2008

Kelestarian Sumber Air Perlu Diperhatikan

I Dewa Gede Bagus
Pentingnya air dalam gerakan lingkungan mendapat perhatian dari Sang Nyoman Suwisma bersama Yayasan Citra Dewata Sentosa yang dikelolanya. "Gerakan pelestarian lingkungan tidak sekadar penghijauan. Tetapi, perlu diperhatikan pula salah satu elemen lingkungan yang sangat vital bagi kehidupan manusia yaitu air," ungkap Sang Nyoman Suwisma dalam pertemuannya dengan kelompok masyarakat Banjar Pakel Desa Sangkangunung Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem, Kamis (7/8) lalu.

Menurut tokoh lingkungan Bali ini, air adalah elemen dasar kehidupan manusia, pertanian, dan juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana olahraga serta kegiatan adventurir. "Karena itulah dalam melakukan gerakan pelestarian lingkungan perlu diperhatikan kelestarian sumber daya air," tegas Suwisma.

Dalam acara pertemuan bersama kelompok masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Tukad Telaga Waja ini, Suwisma melakukan dialog bersama masyarakat tentang pentingnya kelestarian daerah aliran sungai. "Mudah-mudahan kondisi daerah aliran sungai ini tetap terpelihara dengan baik dan lebih dihijaukan lagi, terutama di daerah hulu," imbau Suwisma.

Ia juga meninjau daerah sepanjang aliran sungai itu dan melihat ada beberapa titik yang perlu lebih dihijaukan. Selain itu, Suwisma juga bertemu dengan beberapa orang karyawan Bali Rafting yang memanfaatkan daerah aliran sungai itu untuk olahraga rafting. Bersama beberapa orang karyawan yang juga anggota masyarakat setempat itu, Suwisma banyak bercakap-cakap tentang kegiatan rafting dan berharap perusahaan rafting terlibat dalam kegiatan pelestarian daerah aliran sungai.

"Semoga olahraga rafting yang mendatangkan banyak wisatawan ini bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat," tutur Suwisma. Untuk mempertahankan debit air sungai, Suwisma bersama Yayasan Citra Dewata Sentosa bersepakat dengan masyarakat Banjar Pakel Desa Sangkangunung, Karangasem untuk melakukan gerakan penghijauan bersama.

Klian Dinas Banjar Pakel bersama masyarakat berharap gerakan penghijauan ini juga mengikutsertakan penanaman pohon manggis dan wani yang merupakan buah khas daerah ini. Hal ini disetujui oleh Suwisma. Ia berharap ada koordinasi yang baik dalam hal pemanfaatan air, di antara pengguna air minum, rafting dan subak. "Mudah-mudahan masyarakat bisa mendukung dan menerima wacana pelestarian sumber daya air yang telah disepakati bersama kelompok masyarakat ini dengan Yayasan Citra Dewata Sentosa," harap Suwisma. (r/*)

Kamis, 31 Juli 2008

Kersos IKIP PGRI Bali Berdayakan Warga Nyalian

I Dewa Gede Bagus
Undang Cedil Hibur Masyarakat

Kerja sosial (Kersos) IKIP PGRI Bali tahun ini dipusatkan di Desa Nyalian dan Desa Adat Br. Tegalwangi, Banjarangkan, Klungkung. Seribu mahasiswa dan dosen dikerahkan ikut membantu memberdayakan masyarakat setempat mempersiapkan diri mengikuti lomba desa adat dan desa dinas.

Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan saat melepas peserta kersos, Kamis (31/7) kemarin mengungkapkan visi dan misi IKIP PGRI Bali ternyata nyambung dengan permintaan pemerintah setempat lewat aparat desanya untuk membangun secara bersama-sama. Kerja sama Desa Nyalian dengan IKIP PGRI Bali ini sebagai yadnya bersama membangun desa. Makanya ia menegaskan kedatangan mahasiswa IKIP PGRI Bali ke desa lebih banyak belajar dengan masyarakat. 'Tugas kami belajar dan saling mengisi. Ini yang disebut dengan masimakrama,' ujarnya.

Kersos, kata dia, diadakan 1-3 Agustus. Selama tiga hari mahasiswa dan dosen diajak berinteraksi dan berbagi pengalaman. Di samping untuk mendekatkan IKIP PGRI Bali dengan masyarakat serta menerima masukan bagi IKIP PGRI Bali. Makanya Redha Gunawan menegaskan kersos ini ikut memberdayakan masyarakat setempat baik untuk pembangunan fisik maupun rohani. Bahkan IKIP PGRI Bali mengundang pelawak Cedil untuk menghibur masyarakat.

Cedil bersama Sekaa Arja Coblong Pamor akan menghibur masyarakat Banjarangkan di Br. Tegalwangi pada 1 Agustus malam. Sedangkan pada 2 Agustus IKIP PGRI Bali akan menghibur krama Desa Nyalian di wantilan desa setempat dengan kesenian Bali lainnya.

Ketua Panitia yang juga PR III IKIP PGRI Bali Drs. I Wayan Citrawan, M.Pd. menambahkan, selama kersos mahasiswa diajak membantu membangun pelang desa, candi bentar, pelang desa adat Br. Tegalwangi. Mahasiswa juga membuat papan nama pura, papan administrasi Desa Adat Tegalwangi serta menanam 1.000 pohon glodok, tanjung dan mahoni.

Kegiatan non-fisik meliputi persembahyangan bersama di Pura Pucak Sari Desa Nyalian. Dilanjutkan ceramah oleh Wayan Windia, S.H. dari Majelis Utama Desa Pakraman Bali tentang pemberdayaan desa pakraman melalui Tri Hita Karana di Desa Adat Br. Tegalwangi. Desa adat ini akan mewakili Klungkung pada loba desa Propinsi Bali.

Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. menyambut baik program mahasiswa turun ke desa. Justru semakin sering terjun ke desa dan membantu masyarakat makin bagus untuk menanamkan soft skill mahasiswa. (025/*)

Jumat, 18 Juli 2008

Ketua BPK Puji Kepemimpinan Dewa Beratha

I Dewa Gede Bagus
DEWA BERATHA adalah orang yang sepatutnya dapat paling berbahagia saat ini, karena Gubernur Bali periode 2003-2008 ini dapat mengakhiri masa jabatannya dengan penilaian pengelolaan keuangan daerah yang baik dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Tidak ada permasalahan berarti yang ditinggalkan Dewa Beratha selama memimpin Bali lima tahun terakhir, sehingga kepemimpinannya patut dijadikan contoh oleh para penyelenggara pemerintahan di seluruh Indonesia.

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia Prof. Dr. Anwar Nasution mengemukakan pendapat tersebut saat tampil sebagai pembicara dalam dialog publik dengan tema 'Mendorong Terciptanya Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara/Daerah' di Hotel Sanur Paradise Plaza, Rabu (16/7) lalu. 'Selama saya menjadi Ketua BPK ini, saya mendapatkan, jarang ada pemimpin seperti ini,' katanya disambut tepuk tangan 205 peserta acara ini yang terdiri dari pimpinan eksekutif, legislatif, yudikatif serta LSM dan instansi terkait di wilayah Propinsi Bali, NTB dan NTT.

Anwar Nasution tidak menyampaikan perincian lebih lanjut atas pernyataan itu. Namun, ia menegaskan pengelolaan keuangan negara/daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Dewa Beratha telah meringankan penerusnya dalam memimpin roda pemerintahan, pembangunan dan kegiatan kemasyarakatan Bali karena pengelolaan keuangan negara/daerah telah memenuhi kriteria penilaian baik dari BPK RI.

Sebaliknya, Anwar mengingatkan para penyelenggara pemerintah jangan meniru perilaku Bupati Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Dr. Syaukani. Menurutnya, Bupati Syaukani beruntung menjadi bupati di daerah yang kaya raya potensi kekayaan alam. Namun sayang, kekayaan alam Kutai Kertanegara itu bukannya dimanfaatkan untuk membangun daerah dan mensejahterakan rakyat, melainkan dikorupsi dan dipergunakan untuk menyuap.

'Yang ingin saya lakukan ke depan adalah jangan ada dusta di antara kita. Antara kau (Anwar menunjuk pada peserta dialog) dan aku,' ingat Anwar. Jika masih ada dusta di antara pejabat dengan BPK, maka Anwar menegaskan hasilnya adalah you go to jail (Anda/pejabat pergi ke penjara).

Dialog publik BPK RI ini baru pertama kali dilaksanakan di Bali. Dipilihnya Bali sebagai lokasi pelaksanaan dialog berangkat dari penilaian baik pengelolaan keuangan negara/daerah yang dilakukan Gubernur Bali Dewa Beratha. Tujuan dialog untuk mencari masukan sekaligus respons atas hasil pemeriksaan keuangan yang dilakukan daerah. (r/*) (Bali Post 19/7/08)