Senin, 22 Januari 2018

Keris

I Dewa Gede Bagus
 Sebuah KERIS lahir dari pengetahuan... 
Dan diciptakan untuk mengantarkan manusia pada kebijaksanaan...
Pemujaan wujud fisik atas sebuah pusaka bisa menyesatkan manusia dari tujuan penciptaan pusaka itu sendiri...
Itulah mengapa sangatlah penting bagi kita yang memegang pusaka juga memiliki pengetahuan tentang kebijaksanaan dan kehidupan.
Dalam ajaran KAPITAYAN, KERIS memiliki arti yang sangat mendalam...
KERIS bukan sekedar senjata tikam belaka, lebih dari itu...
KERIS merupakan #kitab_ajaran luhur #tanpa_aksara...
Di dalam KERIS tersimpan rahasia pengetahuan adiluhung yang sangat luar biasa...
KERIS adalah jatidiri bangsa NUSANTARA...
Di dalam KERIS terdapat falsafah hidup yang diguratkan dengan sangat indah...
KERIS memiliki #DAPUR dan #PAMOR yang adalah sebuah#MAHAKARYA_SENI yang berisi pesan #AUTO_SUGESTI tingkat tinggi yg dititipkan oleh Sang
Empu...
Tujuan auto sugesti ini untuk membentuk sebuah karakter tertentu dari pemegangnya...
Itulah maka saya menyebut KERIS sebagai #PETA_SPIRITUAL. yang akan mempengaruhi pikiran seseorang dan akan membentuk karakter seseorang sesuai dg yg dikehendaki dari petunjuk yg di dapat oleh Sang Empu selama #lelaku mbabar sebilah KERIS...

KERIS adalah simbol #SPIRITUALITAS warongko manjing curiga, curiga manjing warangka...
KERIS adalah harga diri bagi seorang lelaki untuk menjaga keluarga dan KEYAKINANNYA...
Di dalam sebilah KERIS juga tersimpan pengetahuan tentang pengetahuan#perdagangan#politik#pemerintahan#strategi_peperangan dan#asmara
Exp.
#KERIS_NAGA_SASRA ciptaan #MPU_SUPO yang digunakan sebagai#PUSAKA peredam perang saudara yang sedang bergejolak di kerajaan#MAJAPAHIT...
#NAGA artinya nata nagara.
#SASRA artinya seribu, naga yang mempunyai sisik seribu...
Sisik adalah pelindung tubuh...
Sisik diartikan dengarkan osik mosiking atine para raja2 bawahan...
#LUK_TELULAS artinya kanggo nekakake #TEtuLUng nylametake kewibawane kerajaan, Raja kudu iso #ngeLUK atine supaya tansah#weLAS asih.
Pesan utuh dari KERIS NAGA SASRA adalah...
Jika Raja ingin meredam perang saudara, dan menyelamatkan masa depan Kerajaan Mojopahit, maka Sang Raja dalam menata negara harus mempunyai hati yang penuh welas asih...
Harus mau mendengarkan aspirasi para raja bawahan, dan harus dilihat, jika mereka bersatu akan menjadi kekuatan pelindung kejayaan Kerajaan...
Perang saudara terjadi karena mereka merasa tidak didengarkan...
KAPITAYAN tidak memuja #khodam keris, tapi KERIS adalah#sarana_pemusatan_kekuatan bagi orang2 yang mmg sdh SHAKTI bahkan tanpa memegang keris sekalipun...
Masih percaya keris dengan khodam keris yang bisa merusak #imananda...??
Masih takut di dalam sebilah KERIS ada entitas yang tidak semestinya...??
Jika keris tidak seharusnya dirawat dan harus dilarung karena Njenengan#TAKUT, titipkan saya saja...😊
Nanti saya tukar telor bebek buat jamu, biar Njenengan kuat dan tidak penakut lagi....😀😀😀
Takut dengan MAHAKARYA SENI adiluhung yang #hanya dimiliki oleh Bangsa kita...??
SAYA BANGGA DENGAN KERIS NUSANTARA.
#SALAM_BLANGKON...🙏🙏😊
Rahayu...
Rahayu...



Sumber : Facebook Ajaran Kapitayan
Sumber

Senin, 15 Januari 2018

Memuja Lingga Yoni

I Dewa Gede Bagus
Diri manusia juga terbentuk lewat proses yang menakjubkan. Secara kasat mata bisa diketahui manusia terlahir dengan peran seorang laki-laki dan perempuan, seorang bapak dan seorang ibu. Lewat persenggamaan yang menyatukan lingga dari bapak dan yoni dari ibu, maka sel sperma terpancar dan bisa menyatu dengan sel telur. Di dalam sel sperma itulah terdapat Sang Jiwa yang berasal dari Bapa Angkasa, sementara sel telur mengandung wadah bagi Sang Jiwa yang tersusun dari segenap unsur alam yang dianugerahkan Ibu Pertiwi.

Berdasarkan kesadaran inilah, orang-orang bijak mengembangkan tradisi pemujaan Lingga yang melambangkan Bapa Angkasa sekaligus alat kelamin laki-laki dan Yoni yang melambangkan Ibu Bumi sekaligus alat kelamin perempuan. Pemujaan ini bertujuan agar setiap pribadi sadar asal mula keberadaannya, dan memberi penghormatan sepatutnya kepada Ibu/Bapak Kandung sebagai orang tua secara kasat mata sekaligus Ibu Bumi dan Bapa Angkasa sebagai orang tua esensial.

Memuja Lingga Yoni sejatinya adalah jalan yang paling nyata untuk menghormati Sang Hyang Hurip: Lingga Yoni itulah pengejawantahan dari Sang Hyang Hurip di jagad dualitas. Dia yang semula suwung mengejawantah menjadi Kuasa Maskulin dan Kuasa Feminin, Sang Bapa Angkasa dan Sang Ibu Bumi. Itulah asal keberadaan manusia.



Sumber : Facebook Setyo Hajar Dewantoro

Jumat, 12 Januari 2018

Sanggama

I Dewa Gede Bagus
"Lakukan sanggama, selayaknya Siwa bersenggama dengan Sakti dalam bilik rahasia."
Sebuah frase lirih sang guru Tantra. Menyerukan kepada muridnya, bahwa lakukanlah sanggama segera. Sebagaimana Siwa bersenggama dengan Sakti dalam bilik rahasia. Sanggama, disini merujuk pada mistisisme Tantra. Sebuah proses penyatuan esoterik antara energi maskulin dan femenim. Keintiman penyatuan tersebut digambarkan dengan sangat indah dalam persetubuhan aksara. Di mana aksara ANG menyatu dengan aksara AH menjadi satu kesatuan yang paripurna.

Sanggama selayaknya Siwa dengan Sakti merupakan sebuah metafora mistik menggambarkan kemanunggalan yang utuh. Kemanunggalan antara Sakti yang berada di simpul cakra bawah, naik bertemu dengan Siwa pada simpul cakra mahkota. Sakti diwujudkan dalam aksara ANG selayaknya api, dan energi dari panas. Siwa terwakilkan oleh aksara AH, yakni energi sejuk dan kelembutan. Keduanya bertemu dalam bilik rahasia. Diamanakah bilik itu?
Ada dalam diri. Bilik itu tidaklah jauh, dan ia ada dalam selubung diri. Bilik adalah ruang, dan ia adalah windhu sebagai sunyantara. Pada windhu dan kesunyian itulah penyatuan itu berada. Maka, lakukan sanggama itu, yakni menyatukan Sakti dengan Siwa pada windhu sunya yang rahasia. Olehnya, nikmat yang melebihi sanggama ( seks ) akan di rasakan. Mengecap nikmat itu adalah pelepasan sesungguhnya.
Tetapi, jangan dilakukan itu sebelum waktunya. Lakukan sanggama sarira dulu ( sakramen seksual). Masukilah windhu nadha dalam bilik perempuan. Sehingga nikmat persetubuhan badan di rasa. Lakukan sanggama itu selayaknya penyatuan Siwa dan Sakti, yakni menyatukan venis dengan vagina untuk mencapai puncak kenikmatan tubuh. Tetapi, itu semua harus ditinggalkan nantinya dan nikmat itu hendaknya dilampui untuk melakukan sanggama dalam bilik rahasia diri.
#rahayu

Sumber : Facebook I Ketut Sandika 

Tantra

I Dewa Gede Bagus
Tantra adalah spiritual dalam laku. Bukan dogma dan agama yang teroganisir. Banyak laku di dalamnya, dan membebaskan manusia tuk darimana ia berjalan dan memulainya. Tujuannya, jelas untuk menjadi manusia seutuhnya.

Spirit Tantra adalah jalan bijak untuk kita mengenal kesejatian diri. Bijak pula dalam bersikap, dan tidak membatasi diri dengan berbagai konsep sempit dari ide, gagasan yang justru menjadikan diri terkungkung. Tantra adalah jalan perluasan diri menuju yang tanpa batas dan melampui keterbatasan.
Sebab manusia sejatinya adalah yang tanpa batas itu. Di dalam dirinya ada spirit yang sama, yakni kesadaran universal. Kesadaran ini adalah kesadaran yang sama dan terhubung dalam rajutan sempurna dari yang mengatasi kesadaran.
Saya sadar, saya pernah melakukan banyak kesalahan. Kesadaran saya itu, pasti dirasakan pula oleh orang lain ketika aspek sadar muncul dalam diri mereka. Sebuah kesadaran yang sama ketika saya atau anda pernah melakukan kesalahan dan kekeliruan dalam melakoni hidup.
Dan Tantra adalah jalan kuno untuk kita menerima dengan iklas semua kesalahan dan kekeliruan itu. Tanpa harus kita merasa menjadi orang yang berdosa dan pendosa, dan menyalahkan diri. Semua adalah proses untuk kita memahami diri. Belajar mematangkan diri dan berguru atas semua peristiwa. Lantas, bukan berarti kita membenarkan atas kesalahan itu dan mencari dalih pembenaran.
Tantra akan mengajak saya dan anda hidup lebih bijak. Kesalahan bukanlah sesuatu yang permanen. Bukanlah sesuatu yang dijauhi. Kesalahan dapat diperbaiki dan disadari keberadaanya sebagai sesuatu yang sementara. Dan kesalahan adalah sebuah perisitiwa penilaian, dan terkadang kita tidak merasa itu salah. Sebab, jauh dari dalam hati adakah dari kita yang menghendaki diri berbuat kesalahan/kekeliruan. Tidak, tetapi toh juga terjadi. Maka, bijaklah atas diri dalam menjalani kehidupan. Kesalahan adalah jalan menuju kebenaran. Bagaimana kita ketahui itu kebenaran, tanpa terlebih dahulu kita merasakan kesalahan dan kekeliruan. Pun sebaliknya.
Oleh karena itu, spirit Tatra adalah melakukan pelampauan atas kesalahan dan kebenaran. Berada di seberang keduanya, maka ia adalah sangat bijak memandang diri dan semua fenomena. Berada di seberang keduanya, maka tidak ada keberpihakan, saling mengungguli dan apapun adalah sebuah proses, jalan bagi jiwa-jiwa manusia untuk menemukan hakikatnya yang terdalam.

Sumber Facebook I Ketut Sandika

Cinta.....

I Dewa Gede Bagus
Sebuah kata sejuta makna, dan tergantung hati mencerna
apa kata cinta dibalik semua. Jadi, maaf aku tidak kuasa menterjemahkannya. Yang jelas cinta hadir setiap saat. Terlebih ketika aku rebah oleh pesona mu. Apalah arti perhiasan dunia dibandingkan dengan pesona itu. Jadi, saat ini injinkan aku menafsirkan makna cinta sebagai pesonamu. Sebab menikmati segala pesona itu, berasa sama dengan aku menikmati cinta.


Nikmat cinta yang digadang pesonamu, seperti bulan menikmati cahaya bintang. Maka jangan pernah meredupkan cahaya pesona itu. Agar tidak pekatlah malam, seperti gelapnya hati tanpa pesonamu. Biarkan menyemburat, membias dan menyentuh diriku yang berada dalam gulita dunia. Hingga nanti, semua kulihat adalah cahaya. Baik dunia dan dalam bilik rahasiamu.
Aku sadar pada diriku, bahwa tidaklah kuasa aku menahan semua ini. Menahan cinta dan pesona itu. Sungguh beratlah hati, dan tidak sanggup hati mewadahi semua hasrat bercinta. Meskipun tuk saat ini, aku akan bercinta dengan hasrat ku sendiri. Berbeda dengan sebelumnya aku bercinta nyata pada kuasamu. Tuk saat ini tiada lebih nikmat bercumbu pada bayang-bayang yang berkerudung jubah "pesona". Tanggalkanlah jubah itu....dan bayanganmu adalah nyata bagi ku...mari rengkuh nikmat cinta dibalik bayangan pesona--cinta---rasa---jauh dalam kalbu..

Sumber : Facebook I Ketut Sandika

Rabu, 22 Februari 2017

Japa Tuan

I Dewa Gede Bagus

Geguritan I Japa Tuan sebuah gambaran indah bata kata sastra yang melukiskan beragam hal penting dalam kehidupan. Ciri orang yang berilmu dan berpengetahuan adalah ia yang memiliki sikap rendah hati. Sebagaimana digambarkan I Gagak Turas kakak dari I Japa Tuan. Gagak Turas "ane negak turasin" atau yang duduk adalah berilmu. Artinya, ia yang duduk (di bawah) simbol dari kerendahan hati adalah memiliki pengetahuan sebenarnya. Duduk bisa ditafsirkan diam. Makanya jangan pernah mengira orang yang diam adalah bodoh, justru yang diam banyak ilmu atau pengetahuannya. Bahkan dalam dunia tantrisme, diam atau hening ke dalam adalah cara efektif mendownlod saripati pengetahuan rahasia. Dalam teks tutur disebutkan "sunya ingaran mawisesa" yang sunyi adalah utama.

Selanjutnya, ketika berilmu dan berpengetahuan kita hendaknya sungguh-sungguh dan terus menerus digunakan untuk mencari makna hidup. Terpenting adalah dengan ilmu pengetahuan kita bisa seimbang material spiritual. Semasih brahmacari carilah ilmu itu, grhasta gunkan ilmu untuk pemenuhan duniawi. Setelah waktunya wanaprasta gunakan ilmu pengetahuan mencari kesejatian hidup, dan bhiksuka gunakan ilmu pengetahuan untuk mengetahui jalan mati. Sebagaimana digambarkan I Japa Tuan "Japa ngaran mantra, Tuan ngaran tuhu". Artinya, sebaiknya pengetahuan digunakan secara sungguh-sungguh untuk mencari kesejatian hidup secara terus menerus melalui sebuah proses selayaknya mantra kehidupan.

Mencari kesejatian hidup tidak mesti harus melupakan duniawi. Justru duniawi adalah alat untuk mencapai tujuan. Hal yang ragawi adalah media untuk mencari kesejatian hidup sesungguhnya. Sangatma tidk akan dapat mencapai pembebasan sebelum ia mengambil badan sebagai kendaraan diri, meskipun nantinya ia akan usang dan tidak abadi. Hal itu digambarkan Ni Ratnaningrat istri dari I Japa Tuan. Ratna adalah perhiasan, Ningrat adalah identik dengan hal-hal duniawi, Ratnaningrat adalah hiasan duniawi. Ni Ratnaningrat akhirnya meninggal setelah menikah dengan Japa Tuan. Lantaran itu Japa Tuan bersma I Gagak Turas pergi ke surga mencari makna dari kehidupan. Artinya, hal yang duniawi tidak abadi, tetapi hal yang duniawi tangga menuju pada kelepasan.

Singkat makna tokoh dalam geguritan itu adalah mengajarkan kita, bahwa dengan kerendahan hati dan pengetahuan kita bisa memahami kesejatian hidup, tanpa harus menolak dunia.

Sumber : FB I Ketut Sandika

Senin, 13 Februari 2017

Valentine Alkimia Cinta:Sexs Adalah Ritus

I Dewa Gede Bagus

Valentine adalah hari kasih sayang, demikian dalam tradisi Barat. Dalam tradisi ketimuran (Bali), cinta kasih tidak ada perayaan khusus sebab cinta, asmara dan kasih sayang hendaknya selalu dihadirkan dalam diri kepada semua makhluk setiap saat dan waktu. Kendatipun ada perayaan Tumpek Krulut, hanyalah sebuah simbolis dalam ritual bahwa tresna lulut asih adalah dasar kehidupan manusia. Artinya, hari suci tersebut hanyalah media mengingatkan kita bahwa dasar kelahiran manusia berawal dari adanya kasih sayang. Sehingga Tumpek Krulut dirayakan melalui hal-hal yang mencerahkan, seperti ritual dst. Sebab kasih sayang adalah cinta alkimia yang mencerahkan. Berbeda dengan Barat, lazimnya hari kasih sayang diwujudkan lebih ke arah euforia sexsual (sexs party) dan sejenisnya.

Dalam teks tutur Bhuwana Mahbah disebutkan bahwa ketika tidak ada apapun. Nora hana (tidak ada) dewa, bhuta, bhuwana, akasa, dst, maka Sanghyang Sunya menciptakan Sanghyang Tiga Guru, dan selaanjutnya beliau menciptakan Sanghyang Guru Reka. Guru Reka, adalah Guru dunia yang menciptakan Lanang (laki-laki), perempuan (wadon) dan kedi (banci). Kemudian Sanghyang Guru Reka menanamkan benih Smararatih pada semuanya tujuannya jelas agar mereka memiliki cinta kasih sayang dan birahi tentunya. Namun agar tidak birahi, nafsu dan cinta serta asmara, kasih sayang dipahami dalam arti sempit, maka beliau menciptakan "aksara" atau sastra sebagai pengendali, seperti modre, swalalita, wrehastra, ardha candra, angka pati, pemada, carik, surang dst. Selanjutnya, atas kemurahan Sanghyang Guru Reka, aksara tersebut diajarkan kepada sang lanang, wadon dan kedi agar mampu memahami cinta, kasih sayang yang sebenarnya adalah tangga menuju pembebasan diri. Dari aksara ini, lahirlah yoga sastra, yakni sebuah jalan pembebasan dengan memahami hakikat aksara. Jadi teks tersebut secara tidak langsung memberikan makna cinta dan kasih sayang adalah tangga menuju pembebasan diri.

Lalu bagaimana dengan hakikat sexs? Dalam teks lontar Tutur Tattwa Menadi Jadma dijelaskan bahwa sanggama adalah yajna rahasia. Artinya, mereka yang bersanggama adalah melakukan ritual yajna. Pun demikian orang melakukan sanggama hendaknya terlebih dahulu melakukan posesi yajna. Sanggama tujuan jelas "ngereka sarira" sebagaimana disebutkan dalam teks tersebut. Sebab dari sarira witning trinadi (sumber 3 nadi). Selanjutnya dari ketiga nadi inilah muncul Ongkara. Singkatnya, tubuh manusia dipersonifikasikan sebagai Ongkara Sungsang (terbalik) dan Ngadeg (tegak). Dua Ongkara tersebut bertemunya di antara kedua alis------hingga nanti dipahami dan orang menemukan pembebasan. Jadi sanggama adalah ritual untuk manusia ngereka sarira agar yang punya sarira memahami aksara Ongkara. Kembali lagi pada aksara.

Kemudian Brhadaranyaka Upanisada menyebutkan dengan sangat jelas. Sexs adalah yajna. Inti manusia adalah air mani. Lalu, Prajapati menciptakan perempuan, dan kemulian perempuan terletak pada bagian bawah (vagina). Bahkan vagina disamakan dengan kunda (tempat pahoman), sebagai tempat pemeras air soma. Liang vagina adalah kunda, bulu vagina adalah rumput yajna. Kemudian orang melakukan sanggama adalah ia yang beryajna memeras air soma kehidupan. Sehingga sex adalah sakral.

Lalu merujuk sumber tersebut, apakah cinta dan sexs (sanggama), ada kesamaan? Sebab selama ini banyak yang salah kaprah cinta diartikan sama dengan sexs. Bahkan banyak orang beranggapan membuktikan cinta harus ngesexs, sebaliknya dengan ngesexs artinya cinta. Merujuk deskripsi di atas, cinta tidak sama dengan sexs walaupun identik. Cinta adalah kasih sayang universal sesungguhnya. Ketika ada cinta ia adalah benih melampui nikmat sanggama seungguhnya. Sedanggkan sanggama adalah sesuatu yang sakral yang tiada lain adalah ritual ngereka sarira. Berbeda bukan berarti dijauhkan atau bertentangan tetapi berhubungan. Sebab sanggama harus didasari dengan cinta kasih universal bahwa melakukannya bukan untuk pemenuhan birai tetapi melampui semua itu. Dengan demikian cinta dan sexs adalah tangga menuju "kebebasan" diri. Jika, dimaknai dan dilakoni dengan benar dan melalui pandangan benar.

Sekali lagi mecintai tidak mesti harus sexs, dan sexs bukan berarti cinta. Jadi, cinta dan sexs sesungguhnya ketika kita bisa melampui nikmat birahi, kecemburuan, iri hati, kedengkian, amarah dan semacamnya.
#rahayu

Sumber : Facebook I Ketut Sandika

Kamis, 09 Februari 2017

SPIRITUAL BALI I

I Dewa Gede Bagus

Ada sahabat saya yang bertanya, kenapa sih ilmu spiritual seperti meditasi dan sejenisnya yang datang dari luar Bali sangat banyak diminati? Memangnya di Bali tidak ada ya ilmu yang sejenis ? Pertanyaanya sangat menggugah saya untuk menuliskan sedikit hal tentang spiritual Bali, seperti meditasi dan sejenisnya.

Ilmu spiritual, seperti meditasi dst secara esensial memiliki kesamaan, yakni sama-sama berupaya mengungkap hakikat diri, mengenal diri. Siapa saya, darimana saya dan kemana saya setelah mati? Vipasana meditasi Buddhis juga sama, yakni berupaya mengenal diri mulai dari rambut, kulit, mata, hidung dst. Transendental meditasi juga memiliki maksud yang sama, dan jenis teknik meditasi yang lainnya pun sama berusaha mengenal diri hingga sampai memasuki alam bawah sadar dan akhirnya mampu mengetahui apa yang ada di balik bekerjanya pikiran, fisik dan jiwa.

Lalu bagaimana tentang spiritual Bali? Apakah meditasi, pranayama, yoga dll dikenal? Iya sangat banyak ada teks bergenre atau berjenis spiritual, seperti teks tattwa, kedyatmikan, kawisesan, dan pangiwan serta penengen. Jenis teks itu juga terbagi menjadi beberapa keputusan yang di dalamnya memuat beragam teknik esoterik tentang spiritualitas, baik metode dan penerapannya dalam sadhana laku.

Dalam teks KEPUTUSAN DASAKSARA disebutkan bahwa meditasi, yoga, pranayama dst adalah media mengenal diri. Sebab ia yang bisa mengenal dan mengetahui hakikat diri maka ia disebut pandita. Sebaliknya pandita (sang duijati) tidak mampu mengenal diri, bukan pandita namanya. Sudrapun mengetahui hakikat diri maka ia layak disebut pandita (nyan wong sudra wangsa wruh ya ri kitattwaning ri raga ika pandita pwa ya). Dengan mengenal diri, kita akan mampu mengetahui bagaimana cara kerja pikiran, tubuh fisik dan kesadaran serta hubungannya denga jiwa.

Lalu bagaimana mengenali diri? Disinilah masing-masing metode spiritual berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Selayaknya aliran sungai yang berbeda tetapi akan menuju pada samudra yang satu. Dalam teks KEPUTUSAN DASAKSARA, teknik mengenal diri dimulai dari mengetahui sepeluh aksara dalam organ. DASAKSARA adalah sepuluh jenis Aksara atau bijaksara yang memiliki kekuatan magis. Kesepuluh aksara ini adalah pasword untuk menghidupkan cakra dan kundalini dalam diri. Sebab cakra (simpul saraf) akan dapat berputar dengan baik, jika organ bekerja dengan baik. DASAKSARA inilah semacam kata kunci dalam mengaktivasi seluruh cakra, baik 7 cakram mayor dan ratusan cakra minor lainnya.

(Besambung)
*Maaf tulisan ini akan disambung ke edisi berikutnya sebab lazimnya kita sangat tidak nyaman membca status terlalu panjang 😊



Sumber : FB I Ketut Sandika






Kamis, 01 Desember 2016

Kisah, Mitos, Dan Misteri Kembar Buncing

I Dewa Gede Bagus

Kembar buncing adalah kondisi dimana bayi kembar yang dilahrikan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Bali yang masih menganut kepercayaan buruk tentang bayi kembar buncing dan keluarganya membuat aturan yang menyudutkan keluarga tersebut. Berikut sepenggal kisah tentang kebahagiaan, kesedihan, dan perjuangan dari keluarga yang memiliki bayi kembar buncing, cerita ini dilansir dari smbbali.co.id.
Luh Sarni telah melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski lahir di rumah sakit di kota kabupaten, berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya. Tubuh Luh Sarni, yang masih lemas karena melahirkan, kini semakin lemas. Ia masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiga hari lagi dokter membolehkannya pulang. Dengan gundah, ia menatap kedua bayinya yang tidur lelap. Suaminya, Wayan Darsa, tercenung di tepi ranjang.
Ombak kebahagiaan di hati pasangan muda itu perlahan ditelan gelombang kecemasan. Darsa telah membayangkan bencana yang akan menimpa mereka jika pulang ke desa. Atas nama aturan adat, mereka tidak akan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.
“Apa yang harus kita lakukan, Bli?”
“Aku sendiri tidak tahu, Luh. Aku bingung, mesti harus berkata apa pada tetua adat dan warga desa? Kita tidak pernah meminta bayi ini lahir kembar buncing. Ini sudah kehendak Dewata!”
“Kenapa warga desa masih saja percaya dengan takhayul,” gumam Luh Sarni.
“Kau tahu sendiri, Luh, kita tinggal di sebuah desa di mana tidak satu pun warganya mengenyam pendidikan tinggi seperti kita. Mereka hanya akrab dengan sawah dan lumpur,” Darsa mencoba menghibur meski hatinya pedih.
“Beginilah akibatnya. Setahun lalu Bli sendiri yang memutuskan tinggal di desa? Saya sudah bilang, lebih nyaman di kota. Kita bisa bebas menentukan jalan hidup kita sendiri, jauh dari aturan adat dan berbagai beban upacara rumit.”
“Tapi, Luh, aku masih memiliki Ibu. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian di desa. Aku anak lelaki satu-satunya. Kau tahu ’kan adik perempuanku sudah menikah. Aku tidak punya pilihan lain, selain bertahan di desa menemani Ibu. Selain itu, aku juga ditugasi mengelola tanah warisan Ayah.”
“Tanah warisan ’kan bisa dijual. Lalu, ajak saja Ibu tinggal di kota,” Luh Sarni mencoba menguasai emosinya. “Tapi sudahlah, percuma berdebat dengan Bli. Sekarang yang perlu dipikirkan, bagaimana menyelamatkan bayi ini agar tidak diasingkan di kuburan!”
“Begini saja, Luh tetap tinggal di sini. Bli akan pulang ke desa, mencoba berunding dengan tetua adat. Aku harap mereka mengerti bahwa zaman telah berubah.”
“Tidak ada gunanya berunding dengan orang-orang kolot itu. Bli akan sakit hati sendiri. Coba sesekali turuti kata-kata saya, kita tinggal di Denpasar. Sementara waktu bisa numpang di rumah bibiku.”
Darsa tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berbagai perasaan campur aduk. Kemudian ia mengecup kening istrinya. Menatap lembut kedua bayinya. Lalu melangkah meninggalkan ruangan dengan keyakinan yang berusaha dibangunnya.
Senja hampir pudar ketika Darsa tiba di desanya yang terpencil di lereng bukit. Untuk mencapai desanya dari kota kabupaten, hanya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Sepanjang perjalanan pulang ia terus memikirkan nasib bayinya. Seingatnya, ia pernah membaca di koran bahwa sanksi adat bagi bayi kembar buncing dan keluarganya telah dihapuskan puluhan tahun lalu. Tapi, kenapa desanya masih menganggap bayi kembar buncing membawa aib? Kenapa aturan kuno itu belum dihapus dari awig-awig? Tidakkah mereka sadar hidup di abad dua puluh satu?
Darsa masih ingat, sekitar dua tahun lalu pernah terjadi peristiwa pengasingan bayi kembar buncing di desa tetangganya. Bayi dan orangtuanya diasingkan dekat kuburan. Seluruh isi rumah dianggap leteh dan harus disucikan dengan upacara khusus. Selama masa pengasingan, mereka juga tidak dibolehkan memasuki tempat-tempat suci atau bersembahyang di pura.
“Tidak manusiawi sekali!” gerutunya dalam hati.
SAMPAI di rumah Darsa disambut wajah cemas ibunya.
“Tadi pagi tetua adat datang menanyakan bayimu. Mereka ingin memastikan kebenaran kabar tentang bayi kembar buncing itu.”
“Lalu Meme ngomong apa?”
“Meme bilang berita itu tidak benar. Tapi, tetua adat tidak percaya. Mereka memaksa Meme berkata jujur. Kalau tidak, mereka akan melakukan tindakan yang lebih tegas.”
“Bayi itu tidak bersalah, Me. Kita tidak boleh membiarkan mereka membawa bayi itu ke kuburan untuk santapan leak.”
“Tapi kita bisa apa? Besok sore tetua adat bersama warga akan mengadakan paruman mendadak untuk memutuskan masalah ini.”
“Keluarga kita diundang?”
“Tidak.”
“Berarti mereka akan mengambil keputusan secara sepihak tanpa mau mendengar pembelaan dari kita.”
“Karena keluarga kita dianggap membawa aib. Kita hanya bisa pasrah dengan keputusan mereka.”
“Tidak bisa, Me! Saya harus bicara dalam paruman itu!”
“Kau tidak mengerti tabiat desa ini. Kau sama saja dengan ayahmu!”
Darsa menuju ke kamarnya. Pikirannya berputar-putar, seperti benang kusut. Ia merasa sanksi adat ini sangat tidak adil karena hanya berlaku bagi kalangan rakyat biasa. Hanya keluarga bangsawan yang boleh melahirkan bayi kembar buncing. Dan rakyat harus bergembira sebab kelahiran tersebut dianggap membawa berkah dan kemakmuran. Namun, kalau bayi tersebut lahir dari rakyat biasa dianggap aib karena menyamai raja.
“Sungguh tidak adil! Aturan ini harus dihapus dari awig-awig desa,” gumam Darsa kesal. Karena lelah jiwa dan raga, ia akhirnya tertidur pulas.
Paruman belum dimulai. Warga membentuk beberapa kerumunan kecil di pinggir jalan, di warung tuak, dan warung kopi. Mereka ngobrol sangat perlahan dan hati-hati, melihat kiri-kanan, seakan takut suara mereka akan membangunkan hantu-hantu kuburan.
“Mengerikan! Desa kita akan ditimpa kekeringan berkepanjangan.”
“Panen akan gagal lagi.”
“Sebulan lalu ada anak anjing lahir berkaki lima. Seminggu lalu bunga bangkai mekar di jaba pura. Sekarang bayi kembar buncing! Duh… Dewa Ratu, bencana apa yang akan menimpa desa ini?”
“Beberapa malam lalu saya melihat sinar biru melesat dari arah bukit.”
“Aku juga melihatnya.”
“Ya, aku juga lihat. Tapi, sinarnya biru bercampur merah.”
“Akhir-akhir ini memang sering terjadi siat peteng di pinggir desa.”
“Kemarin malam aku malah mendengar suara burung gagak di atap rumah Darsa.”
“Kau tahu, hujan sudah hampir tiga bulan tidak turun di desa kita?”
“Semoga desa kita diberi kekuatan mengatasi aib ini.”
Begitulah, wajah warga desa diliputi berbagai kecemasan dan kengerian. Mereka mengalungkan benang tridatu di pergelangan tangan masing-masing, sebagai penolak bala, pengusir roh jahat yang mengganggu.
Suasana desa benar-benar dicekam ketakutan. Warga sudah mengunci pintu rumah mereka sekitar pukul delapan malam. Mereka merasa lebih aman berkumpul di dalam rumah ketimbang berkeliaran di jalan yang sampai saat ini belum dipasangi penerangan jalan oleh pemerintah.
Tetua adat memasuki balai desa. Warga menghentikan bisik-bisiknya. Paruman berjalan alot. Dari mulut klian adat meluncur berbagai petatah-petitih dan nasihat agar ketenangan desa dijaga, agar warga bersatu mengusir roh jahat yang mengganggu serta bersama-sama mengatasi aib yang menimpa desa.
Sampai pada pokok masalah, dengan wibawa yang dibuat-buat, klian angkat bicara. “Awig-awig harus ditegakkan. Keluarga Darsa harus diasingkan dekat kuburan selama 42 hari. Mereka harus menggelar upacara caru agung yang akan dipimpin oleh pemangku desa.” Warga desa mendengar dengan santun sambil manggut-manggut.
Untuk memancing reaksi warga, klian kembali angkat bicara, “Ada pertanyaan dari warga sekalian?” Para peserta paruman menundukkan kepala. Klian menatap mereka satu per satu. “Kalau tidak ada pertanyaan, paruman akan…!”
“Saya bertanya, Pak Klian!” Warga kaget seperti melihat leak. Tidak terkecuali para tetua adat. Mereka serentak mengalihkan pandangan ke arah Darsa yang dengan tenang menaiki tangga balai desa dan mengambil posisi duduk di depan warga menghadap klian. Warga saling berbisik seperti dengung kerumunan lebah.
“Saudara sekalian harap tenang!” Pak Klian menatap Darsa lekat-lekat. “Kenapa kamu datang ke paruman ini?! Menurut awig-awig kamu…”
“Maafkan kelancangan saya, Pak Klian. Saya hanya mohon penjelasan kenapa sanksi adat mengenai bayi kembar buncing belum juga dihapuskan di desa ini, sementara pemerintah telah melarangnya puluhan tahun lalu?”
Warga desa tersentak mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Darsa. Sebagian geram dengan kelancangannya yang dianggap tidak menghormati paruman. Sebagian lagi diam-diam mendukung dan bangga dengan keberaniannya, meski hanya dalam hati. Mereka takut dengan tetua adat.
Beberapa warga sadar bahwa keluarga Darsa dan bayinya tidak bersalah. Bayi tersebut tentu tidak minta lahir dari rahim Luh Sarni, tapi semata-mata hanya karena kehendak Dewata. Sekarang Darsa yang mengalami nasib seperti ini, besok bisa saja menimpa warga lainnya. Namun, warga tidak mampu berbuat apa-apa di bawah aturan awig-awig yang walau kolot, tapi harus tetap dipatuhi agar terhindar dari sanksi adat yang lebih parah.
Dengan wajah disabar-sabarkan, klian menjawab pertanyaan Darsa yang dianggapnya terlalu lancang. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, Nak. Peraturan itu sudah tersurat dalam awig-awig desa jauh sebelum saya atau kamu lahir. Awig-awig ini sudah di-pasupati. Jadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mematuhinya. Dan, menurut awig-awig kamu semestinya tidak boleh menghadiri paruman ini karena masih leteh. Atas kelancanganmu, kau wajib membayar denda…,” klian menarik napas mencoba mengendalikan diri. “Nah, warga sekalian, paruman diakhiri sampai di sini. Sekarang silakan kembali ke rumah masing-masing!”
Klian mengemasi tumpukan lontar yang berisi awig-awig, alat tulis, dan buku catatan, kemudian meninggalkan balai desa diiringi tetua adat yang lain. Satu per satu warga pun kembali ke rumah masing-masing. Sekejap balai desa menjadi senyap. Hanya Darsa yang masih duduk tercenung di tangga balai desa. Darah mudanya mendidih. Ia merasa menjadi pecundang di desa kelahirannya sendiri. Ia merasa tidak dipedulikan, pembelaannya tidak didengar oleh tetua adat.
Bulan hampir penuh menyembul dari rerimbun pepohonan. Kenangan demi kenangan masa kanak-kanak kembali berkelebat dalam benak Darsa. Bermain petak umpet di bawah purnama dengan kawan sebaya. Mandi di kali yang berair jernih hingga sampai lupa waktu. Bersama kakek mengembalakan sapi di sawah sambil mengerjakan PR yang diberikan guru. Darsa begitu mencintai desanya. Desa yang menyimpan manis kenangan masa kanak-kanak.
Masih membekas dalam kenangannya bagaimana ia menangis menatap hamparan desanya dari jalan yang melingkari punggung bukit. Saat itu ia baru lulus SMP dan akan berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah dan kuliah. Darsa beruntung mempunyai ayah seorang guru, meski hanya guru SD di desa. Ayahnya yang terus-menerus mendorong Darsa agar sekolah dan kuliah di kota.
Namun, sukses menyekolahkan anak di kota berbuntut pada tumbuh suburnya rasa iri hati sejumlah warga yang tidak senang pada keluarga Darsa. Apalagi ayahnya dikenal sebagai warga yang paling suka bertanya dalam setiap paruman dan paling kritis dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tetua adat yang sering kali mengatasnamakan awig-awig yang tidak boleh dibantah.
Karena dianggap mengangkangi awig-awig dan wibawa tetua adat, ayahnya dikucilkan dari desa adat sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, ketika ayahnya meninggal, mayatnya tidak boleh dikubur di pekuburan desa adat, kecuali pihak keluarga bersedia mengakui kesalahan almarhum dan membayar denda yang besarnya telah ditentukan oleh awig-awig.
Demi penguburan mayat ayahnya, Darsa bersedia mengakui kesalahan ayahnya di hadapan warga dan membayar denda sesuai ketentuan. Dalam hati, Darsa tidak mengerti apa kesalahan ayahnya? Apakah hanya karena bersikap kritis terhadap awig-awig dan suatu kebijakan adat dianggap kesalahan?
Dendam tetua adat rupanya belum juga surut. Kini keluarganya kembali dikenakan sanksi adat, hanya karena melahirkan bayi kembar buncing. Sebagai seorang sarjana, Darsa merasa malu karena tidak berdaya menghadapi awig-awig desa adatnya sendiri. Ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa untuk membenahi atau meluruskan awig-awig yang kolot dan sering kali dibengkokkan oleh tetua adat untuk kepentingannya sendiri.
Hasil paruman telah diputuskan. Luh Sarni beserta bayinya akan diasingkan di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, keluarga Darsa diwajibkan menggelar upacara bersih desa. Memikirkan hal itu ia ngeri sendiri, membayangkan kedua bayinya akan hidup di kuburan selama sebulan lebih.
Tidak cara lain kecuali harus menentukan pilihan, meski berat harus dijalankan. Pagi-pagi sekali Darsa menjelaskan rencananya pada ibunya. Perempuan paruh baya itu kaget dan sedih mendengar keputusan anaknya.
“Kau tidak mau menghadapi kenyataan. Kau tahu ayahmu masih di kubur di sini dan belum di-aben?”
“Me, ini pilihan terakhir. Tidak ada jalan lain lagi. Di kota tidak ada sanksi adat yang kolot seperti ini!”
“Kalau itu kehendakmu, silakan kau berangkat sendiri. Biarlah Meme tinggal di sini merawat kuburan ayahmu. Meme masih mencintai desa ini, kau mengerti? Meme yakin suatu saat desa ini akan berubah menjadi lebih baik.”
Darsa tidak mampu berkata apa lagi. Untuk kedua kalinya ia menangis meninggalkan desa kelahirannya. Kini batinnya luka parah karena harus berpisah dengan ibunya.
Kalau keputusan awig-awig itu masih disebut kebenaran, Darsa pun telah memilih kebenarannya sendiri: mengikuti saran istrinya, hidup di kota, bila perlu melepas agama yang diwarisinya sejak lahir. Ia tidak pernah tahu, entah kapan akan kembali ke desa yang sangat dicintainya itu.
Kembar buncing: kembar laki dan perempuan. Konon, raja Bali kuno pernah memiliki anak kembar buncing, Sri Masula-Masuli. Karena diyakini telah melakukan hubungan intim selama dalam kandungan, mereka akhirnya dikawinkan dan menjadi raja-ratu yang membawa Bali ke arah kemakmuran.
Sanksi adat bagi kelahiran bayi kembar buncing telah dihapus oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bali dalam Paswara Nomor 10/DPRD tertanggal 12 Juli 1951, yang ditandatangani oleh Ketua Dewan, I Gusti Putu Merta. Namun, sampai kini beberapa desa di pedalaman Bali masih memberlakukan sanksi adat tersebut.
sumber: smbbali, bicarakembar